Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Dampak Penggunaan Ban Biasa pada Mobil Listrik, Ternyata Bisa Merugikan

Dampak Penggunaan Ban Biasa pada Mobil Listrik, Ternyata Bisa Merugikan Kredit Foto: PLN
Warta Ekonomi, Jakarta -

Popularitas mobil listrik (EV) saat ini tengah melonjak, tapi banyak pengguna yang melupakan beberapa elemen penting dalam mobil listrik, salah satunya ban.

Apakah Mobil Listrik Butuh Ban Khusus?

Ban untuk mobil listrik (EV) mempunyai kekhususan tersendiri dibanding dengan mobil yang menggunakan teknologi pembakaran internal (ICE). Mobil listrik mempunyai akselerasi yang instan, begitu injak pedal gas, langsung mendapat 100 persen tenaga kendaraan. Selain itu mobil listrik juga mempunyai beban mobil lebih berat karena menopang baterai.

Kombinasi antara akselerasi instan dan beban baterai yang berat membuat ban mobil listrik cepat aus jika menggunakan ban konvensional.

Perbedaan Ban EV vs Ban Konvensional

Ban EV dibuat khusus dengan struktur serta komponen karet yang berbeda dengan ban mobil konvensional.

Ban EV dibuat khusus agar ban mampu menahan torsi instan yang besar sekaligus menopang bobot baterai kendaraan yang lebih berat, sekaligus dibuat lebih senyap dan meminimalisir terjadinya hambatan gulir (rolling resistance).

Ban khusus EV berfungsi menjaga efesiensi energi dan menjaga jarak tempuh mobil listrik tetap optimal.

Namun, bila mobil EV memaksakan tetap menggunakan ban konvensional, akan menimbulkan kerugian yang signifkan, seperti rolling resistance, tingkat kebisingan, dan daya tahan terhadap torsi kendaraan:

1. Rolling Resistance

Rolling resistance (hambatan gulir) di mobil listrik (EV) adalah gaya hambat energi yang dihasilkan saat ban berputar dan bersentuhan dengan permukaan jalan. Mobil EV, hambatan ini akan berdampak langsung pada efisiensi baterai dan jarak tempuh. Ban EV umumnya menggunakan teknologi Low Rolling Resistance (LRR) atau hambatan gulir rendah untuk menghemat daya.

Ban EV dibuat dengan teknologi dan kompon khusus dengan desain tapak/pola ban tertentu untuk meminimalkan hambatan tersebut. Apa dampak baiknya? 

  • Jarak tempuh lebih jauh
  • Konsumsi energi lebih hemat
  • Efisiensi baterai lebih optimal

2. Tingkat Kebisingan

Mobil listrik hampir tidak menghasilkan suara mesin. Akibatnya, suara gesekan ban dengan aspal menjadi lebih terdengar di dalam kabin.

Karena itu, ban EV biasanya memiliki:

  • Pola tapak yang dirancang lebih senyap
  • Struktur internal dengan peredam suara
  • Dinding ban yang membantu mengurangi resonansi

Beberapa produsen bahkan menyematkan teknologi peredam busa di dalam ban untuk meningkatkan kenyamanan berkendara.

3. Daya tahan terhadap Torsi Instan

Berbeda dengan mobil bensin yang tenaga dan torsinya naik bertahap, motor listrik memberikan torsi maksimum secara instan sejak awal akselerasi.

Konsekuensinya:

  • Ban lebih cepat aus jika tidak dirancang untuk torsi tinggi
  • Traksi harus lebih optimal
  • Struktur ban harus lebih kuat
  • Ban EV umumnya memiliki konstruksi yang lebih kokoh untuk menghadapi beban tambahan serta tekanan torsi mendadak tersebut.

Risiko Menggunakan Ban Biasa pada Mobil Listrik

Menggunakan ban konvensional pada mobil listrik memang tidak dilarang. Namun, ada beberapa risiko yang perlu diperhatikan:

  • Jarak tempuh berkurang karena hambatan gulir lebih tinggi.
  • Ban lebih cepat aus akibat torsi instan dan bobot kendaraan yang lebih berat.
  • Kebisingan meningkat di dalam kabin.
  • Efisiensi energi menurun, yang dalam jangka panjang berdampak pada biaya operasional.

Selain itu, karena baterai membuat mobil listrik lebih berat, penggunaan ban yang tidak sesuai spesifikasi load index juga berisiko terhadap keselamatan.

Risiko Menggunakan Ban Biasa Pada Mobil Listrik

Berikut beberapa risiko menggunakan ban biasa (konvensional) pada mobil listrik (EV):

1. Jarak Tempuh Lebih Pendek

Mobil listrik sangat bergantung pada efisiensi energi baterai.

Ban konvensional umumnya memiliki rolling resistance lebih tinggi dibanding ban khusus EV.

Akibatnya:

  • Konsumsi energi meningkat
  • Baterai lebih cepat habis
  • Jarak tempuh berkurang
  • Dalam penggunaan harian, selisih ini bisa cukup terasa, terutama untuk perjalanan jauh.

2. Ban Lebih Cepat Aus

Mobil listrik seperti produksi Tesla atau Hyundai memiliki torsi instan yang langsung keluar saat pedal ditekan.

Jika menggunakan ban biasa:

  • Tapak ban lebih cepat terkikis
  • Umur pakai lebih pendek
  • Frekuensi penggantian meningkat
  • Selain itu, bobot EV yang lebih berat karena baterai juga mempercepat keausan.

3. Kebisingan Lebih Tinggi di Kabin

Mobil listrik hampir tanpa suara mesin.

Artinya, suara gesekan ban dengan aspal akan jauh lebih terdengar.

Ban EV biasanya dirancang dengan:

  • Pola tapak lebih senyap
  • Struktur peredam suara
  • Jika memakai ban biasa, kabin bisa terasa lebih bising dan mengurangi kenyamanan.

4. Risiko Traksi Kurang Optimal

Karena torsi EV sangat besar sejak awal akselerasi, ban harus memiliki daya cengkeram (grip) yang baik.

Ban konvensional yang tidak dirancang untuk karakter ini bisa menyebabkan:

  • Slip saat akselerasi
  • Kontrol kurang stabil
  • Jarak pengereman lebih panjang
  • Dalam kondisi jalan basah, risiko ini bisa meningkat.

5. Beban Tidak Sesuai (Load Index)

Mobil listrik umumnya lebih berat dibanding mobil bensin sekelasnya.

Jika ban biasa memiliki load index yang tidak sesuai:

  • Struktur ban bisa cepat rusak
  • Risiko pecah ban meningkat
  • Stabilitas kendaraan terganggu
  • Ini menjadi aspek keselamatan yang penting.

6. Efisiensi Biaya Jangka Panjang Menurun

Walaupun ban biasa mungkin lebih murah di awal, dampaknya bisa:

  • Lebih sering ganti ban
  • Konsumsi energi meningkat
  • Biaya operasional lebih tinggi
  • Dalam jangka panjang, penggunaan ban yang tidak sesuai justru bisa lebih mahal.

Rekomendasi Ban yang Cocok untuk Mobil Listrik

Saat ini di Indonesia sudah banyak produsen ban yang menciptakan ban khusus untuk mobil listrik sesuai dengan kebutuhan performa kendaraan dan efesiensi daya kendaraan.

1. Bridgestone Turanza EV

Mempunyai teknologi ENLITEN untuk tenaga lebih ringan & rolling resistance rendah dan mendukung efisiensi baterai serta kenyamanan berkendara. Cocok untuk EV harian dan perjalanan jauh.

Spesifikasi umum:

  • Tread all-season
  • Stabil, senyap, & nyaman
  • Load index tinggi (untuk bobot EV)

Kisaran harga Indonesia: sekitar Rp3,5 juta–Rp5 juta per ban tergantung ukuran dan model.

2. Michelin e.Primacy

Dirancang khusus dengan rolling resistance rendah dan membantu efisiensi energi serta jarak tempuh baterai lebih jauh. Michelin terkenal dengan kenyamanan dan keheningan berkendara.

Spesifikasi umum:

  • Compound khusus EV
  • Fokus pada efisiensi dan kenyamanan
  • Cocok untuk sedan/hatch EV harian

Kisaran harga Indonesia: sekitar Rp3,3 juta-Rp4,5 juta per ban tergantung ukuran dan model.

3. Goodyear Electricdrive

Ban ini dirancang khusus untuk mobil listrik dengan fokus pada kenyamanan & pengurangan kebisingan, serta struktur yang kuat untuk handle bobot EV.

Spesifikasi umum:

  • Teknologi busa peredam suara
  • Konstruksi tahan torsi baterai EV

Kisaran harga Indonesia: sekitar Rp3,8 juta-Rp5 juta per ban tergantung ukuran dan model.

4. Continental Eco Contact

Ban ini berfokus pada efisiensi energi dan mempunyai kelebihan rolling resistance yang rendah serta kestabilan kinerja di kondisi basah/dingin. Seri ini sering direkomendasikan sebagai ban efisien untuk EV.

Spesifikasi umum:

  • Teknologi bahan Green Chili 2.0
  • Kontrol pengereman dan grip baik di jalan basah

Kisaran harga Rp3 juta-Rp5,5 juta tergantung ukuran dan model.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Ferry Hidayat

Bagikan Artikel: