Kredit Foto: Istimewa
Pasar aset kripto melemah setelah notulen rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Januari mengindikasikan sikap kebijakan moneter yang cenderung hawkish, seiring melonjaknya probabilitas suku bunga acuan Amerika Serikat dipertahankan pada Maret 2026 hingga di atas 93%.
Financial Expert Ajaib Panji Yudha menyatakan tekanan pasar kripto terjadi akibat menguatnya ekspektasi pengetatan moneter yang lebih lama.
“Notulen FOMC menunjukkan perbedaan pandangan di internal The Fed. Kondisi ini mendorong pelaku pasar bersikap defensif dan mengurangi eksposur ke aset berisiko seperti kripto,” ujar Panji dalam analisis pasar Kamis (19/2/2026).
Berdasarkan data pukul 08.00 WIB, Bitcoin (BTC) melemah 1,25% dalam 24 jam terakhir ke level US$66.450 atau setara Rp1,12 miliar. Dominasi pasar Bitcoin tercatat di 58,60%, sementara total kapitalisasi pasar kripto turun 1,30% menjadi US$2,27 triliun.
Baca Juga: Investor Waspada, Penurunan Harga Bitcoin (BTC) Bisa Jadi Tanda Krisis Akibat AI
Tekanan tersebut muncul setelah notulensi FOMC yang dirilis Kamis dini hari waktu Indonesia memperlihatkan sikap pejabat Federal Reserve yang terbelah. Sebagian pejabat membuka ruang pemangkasan suku bunga apabila inflasi turun ke target 2%, sementara kelompok lain menyatakan siap mendukung kenaikan suku bunga jika tekanan inflasi bertahan.
Di sisi lain, indeks dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS menguat, mencerminkan pergeseran investor ke aset safe haven. Bitcoin sempat turun ke bawah level US$67.000 sebelum bergerak terbatas.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: