Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Daftar Saham Korporasi AI 2026 yang Paling Dilirik Investor

Daftar Saham Korporasi AI 2026 yang Paling Dilirik Investor Kredit Foto: Cloudera
Warta Ekonomi, Jakarta -

Saham Artificial Intelligence (AI) kini semakin dilirik oleh para investor. Salah satu faktor penyebabnya adalah sektor teknologi, khususnya AI telah menjadi motor pertumbuhan pasar modal global sejak tahun 2020.

Mengapa Saham AI Semakin Dilirik di 2026?

1. Tren Artificial Intelligence Global

Perusahaan besar dunia, seperti NVIDIA, Microsoft, dan Google terus meningkatkan investasi pada riset AI. Startup baru juga bermunculkan dengan memamerkan inovasinya.

Terdapat sejumlah faktor yang semakin memperkuat tren AI di 2026, yaitu optimisme pasar global, perkembangan teknologi, dan narasi jangka panjang.

Optimisme pasar global tersebut bersumber dari prediksi Wall Street bahwa AI akan menjadi penentu pasar saham, terutama setelah reli panjang indeks utama di AS.

Dalam perkembangan teknologi, AI semakin terintegrasi dalam berbagai sektor, mulai dari kesehatan, keuangan, hingga otomasi industri. Dan untuk narasi jangka panjang adalah AI mulai dilihat sebagai siklus teknologi yang lebih panjang dan berkelanjutan.

2. Dampak AI terhadap Industri dan Valuasi Saham

AI telah mempengaruhi berbagai sektor industri dan menimbulkan berbagai perhatian besar di pasar saham. Teknologi tersebut mengubah cara industri beroperasi.

Dampaknya terhadap valuasi saham adalah dengan lonjakan harga, di mana perusahaan yang berhasil mengintegrasikan AI ke dalam bisnis inti mengalami kenaikan harga saham signifikan. Selain itu, investor juga lebih selektif dalam memilih saham AI dengan mempertimbangkan pendapatan berkelanjutan.

Baca Juga: Investor Asing Borong Saham TUGU Dua Minggu Non Stop, Ada Apa?

Meskipun sektor ini menjanjikan, namun tetap rawan fluktuasi karena ekspektasi pasar yang tinggi, sehingga dapat rentan terkoreksi hingga lonjakan yang cepat.

Daftar Saham Korporasi AI 2026 yang Menarik Dipantau

1. Saham AI Global

Sepanjang 2026, saham berbasis AI menjadi salah satu sektor yang paling dilirik pasar modal. Perusahaan yang mampu mengintegrasikan lini AI ke lini bisnis inti adalah yang mencuri perhatian investor karena dianggap menjadi motor pertumbuhan jangka panjang.

Sejumlah perusahaan yang terus memperkuat investasi di bidang AI adalah NVIDIA, Microsoft, dan Google. Di mana NVIDIA merupakan tulang punggung komputasi AI dengan chip grafisnya. Sedangkan Microsoft mengintegrasikan AI ke layanan cloud Azure. Dan untuk Google mengembangan model AI generatif untuk berbagai aplikasi.

2. Saham Berbasis AI di Indonesia

Tren global AI juga mempengaruhi pasar saham di Indonesia meski belum sebesar pasar global. Sejumlah emiten teknologi dan sektor terkait juga mulai mengintegrasikan AI dalam operasional maupun layanan bisnis.

Di antaranya adalah PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) yang memperkuat layanan digital dan media dengan integrasi AI guna meningkatkan pelayanan pengguna. Selanjutnya PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) melalui kerja sama dengan mitra teknologi untuk memanfaatkan AI dalam penelitian dan pengembangan obat. 

Kemudian perusahaan data center dan e-commerce yang mulai mengadopsi AI untuk meningkatkan efisiensi operasional dan layanan pelanggan. 

3. Emiten Teknologi dengan Ekspansi AI

Terdapat sejumlah emiten teknologi di Indonesia yang mulai ekspansi ke bidang AI untuk memperkuat bisnis dan menarik minat investor. 

Sejumlah emiten tersebut, yaitu PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK), perusahaan farmasi seperti PT Pyridam Farma Tbk (PYFA), emiten data center dan e-commerce, serta fintech dan cloud computing yang menggunakan AI untuk analisis risiko, keamanan transaksi, dan optimalisasi layanan berbasis cloud.

Faktor yang Perlu Diperhatikan Sebelum Membeli Saham AI

1. Fundamental dan Pertumbuhan Revenue

Investor perlu untuk menilai fundamental perusahaan sebelum membeli saham berbasis AI. Pasalnya tidak semua perusahaan yang mengklaim menggunakan AI dapat menghasilkan pendapatan berkelanjutan melalui teknologi yang digunakan.

Biasanya, prusahaan dengan integrasi AI yang kuat menunjukkan pertumbuhan revenue konsisten dari produk atau layanan berbasis AI, model bisnis yang jelas bukan sekadar mengikuti tren yang ada, serta laporan keuntungan yang sehat dengan margin keuntungan uang meningkat berkat efisiensi AI.

2. Risiko Valuasi Tinggi

Sektor ini sering mengalami lonjakan valuasi karena hype dan ekspektasi pasar yang mengakibatkan saham bisa terlalu mahal (overvalued) dan berisiko bubble, di mana harga naik cepat, lalu merosot. Sehingga investor perlu membandingkan valuasi dengan fundamental agar tidak terjebak pada euforia pasar.

Baca Juga: Emiten Happy Hapsoro (BUVA) Ungkap Alasan Rights Issue 50 Miliar Saham

3. Kompetisi dan Disrupsi Teknologi

AI merupakan sektor yang kompetitif dan cepat berubah. Ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan yaitu kompetisi ketat antara perusahaan besar seperti NVIDIA, Microsoft, dan Google bersaing dengan banyak startup inovatif.

Selanjutnya disrupsi teknologi di mana inovasi baru mengubah cara industri beroperasi dan bagaimana masyarakat beraktivitas atau sederhananya membuat model bisnis lama cepat usang. 

Hal ini menyebabkan perusahaan yang tidak mampu beradaptasi dengan perkembangan AI berisiko tertinggal, meski saat ini mempunyai valuasi yang tinggi.

Strategi Investasi Saham AI untuk Jangka Panjang

1. Diversifikasi Portofolio

Meski sektor ini menjanjikan, lebih baik untuk diserfikasi portofolio ke sektor lain seperti kesehatan, energi, atau consumer goods yang akan membantu menyeimbangkan risiko.

Pasalnya sektor AI sangat fluktuatif. Melalui diserfikasi investor tetap bisa menikmati potensi pertumbuhan AI dengan lebih tenang dan nyaman.

2. Dollar Cost Averaging (DCA)

Strategi ini adalah membeli saham secara rutin dengan jumlah tertentu tanpa terlalu memikirkan harga pasar saat itu. Melalui cara ini investor akan dapat mengurangi risiko membeli di harga puncak, mendapatkan harga rata-rata yang lebih stabil dalam jangka panjang, dan menjaga disiplin investasi, terutama di sektor yang fluktuatif seperti AI.

3. Investasi Tematik vs Selektif

Investasi tematik adalah dengan mengikuti tren besar seperti membeli saham-saham yang masuk dalam indeks teknologi atau ETF berbasis AI. Ini cocok bagi investor yang ingin eksposur luas terhadap sektor ini.

Sedangkan untuk investasi selektif adalah dengan memilih perusahaan tertentu yang terbukti memiliki fundamental kuat dan pendapatan nyata dari AI. cocok bagi investor yang lebih berhati-hati dan fokus pada kualitas, bukan sekadar tren.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya

Bagikan Artikel: