Bangun Bisnis Sekaligus Masyarakat: Strategi Sosial SCG Indonesia
Kredit Foto: Istimewa
Bagi industri berat seperti semen, keberlanjutan tidak hanya diukur dari efisiensi energi atau penurunan emisi karbon.
Dimensi sosial menjadi fondasi yang sama pentingnya dalam menjaga stabilitas operasional jangka panjang.
Di sekitar fasilitas produksinya, SCG Indonesia menempatkan program sosial sebagai bagian dari strategi bisnis, bukan sekadar aktivitas filantropi.
Presiden Direktur SCG Indonesia Pattaraphon Charttongkum (Palm) menegaskan, pendekatan keberlanjutan perusahaan dirancang secara inklusif.
“Tujuan bisnis kami adalah inklusif green growth."
"Inklusif artinya kami melakukannya bersama masyarakat, pemerintah, dan mitra lain,” ujar Palm dalam bincang Meet the Leader bersama Warta Ekonomi, dikutip pada Selasa (24/2/2026).
Pendekatan tersebut diterjemahkan melalui investasi sosial di bidang pendidikan, penguatan ekonomi lokal, hingga pelibatan masyarakat dalam program lingkungan.
Di wilayah operasional seperti Sukabumi, program sosial diarahkan untuk menciptakan dampak jangka panjang yang terukur.
Pendidikan sebagai Investasi Strategis
Salah satu pilar utama adalah dukungan pendidikan melalui program beasiswa dan subsidi pembelajaran.
Perusahaan memandang akses pendidikan sebagai fondasi peningkatan kualitas sumber daya manusia di sekitar pabrik.
“Kami mendukung beberala sekolah di sekitar area operasional melalui subsidi pembelajaran, kata Palm.
Komitmen itu diwujudkan melalui program SCG Sharing the Dream yang berjalan sejak 2012 di Indonesia.
Program ini menjadi bagian dari komitmen ESG 4 Plus perusahaan, khususnya dalam mengurangi kesenjangan sosial dan memperluas akses pendidikan.
Mengusung tema From Gen Z to Green Z SCG’s: Mission to Shape Future Change, perusahaan menilai generasi muda memiliki peran strategis dalam mendorong transformasi menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.
Pendidikan karakter dan akses pembelajaran dinilai menjadi kunci pembentukan generasi tersebut.
Sejak diluncurkan, program ini telah menjangkau sekitar 4.600 penerima beasiswa yang tersebar di sembilan area operasional, dengan total alokasi dana sekitar Rp20 miliar.
Pada 2025, perusahaan menyalurkan beasiswa kepada 415 siswa SMA sederajat, serta 12 mahasiswa jenjang S1 dan D4.
Dalam perspektif bisnis, investasi sosial semacam ini dinilai membantu memperkuat social license to operate—sebuah prasyarat penting bagi industri yang beroperasi di tengah masyarakat.
Mendorong Ekonomi Lokal Lebih Resilien
Selain pendidikan, SCG Indonesia juga memfokuskan program pada pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar wilayah operasional.
Perusahaan memberikan dukungan dan pendampingan agar pelaku usaha lokal memiliki kesempatan berkembang lebih luas.
“Kami fokus pada komunitas yang berdekatan dengan factory kami, dan mendukung mereka agar memiliki lebih banyak kesempatan berkembang dalam bidang UMKM."
"Dengan begitu, pertumbuhan perusahaan bisa berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi lokal,” tutur Palm.
Pendekatan tersebut bertujuan menciptakan efek pengganda ekonomi di tingkat lokal.
Keberadaan industri besar dapat menjadi penggerak aktivitas ekonomi jika terintegrasi dengan pelaku usaha sekitar, baik melalui pelatihan, kemitraan, maupun dukungan kapasitas usaha.
Di tengah dinamika ekonomi nasional, penguatan UMKM dinilai berperan dalam meningkatkan ketahanan ekonomi masyarakat, sekaligus memperkuat relasi antara perusahaan dan komunitas.
Partisipasi Warga dalam Agenda Lingkungan
Dimensi sosial juga terintegrasi dalam program pengelolaan sampah yang mendukung produksi refuse-derived fuel (RDF).
Dalam skema tersebut, masyarakat dilibatkan dalam pengumpulan sampah rumah tangga, yang kemudian diolah menjadi bahan bakar alternatif untuk kebutuhan pabrik.
Perusahaan menerapkan sistem insentif bagi warga yang berpartisipasi.
“Mereka akan mendapatkan sesuatu kembali, misalnya telur atau minyak,” jelas Palm.
Skema ini mendorong perubahan perilaku berbasis insentif ekonomi, sekaligus memperkuat kesadaran lingkungan di tingkat rumah tangga.
Pendekatan tersebut menunjukkan integrasi antara aspek lingkungan dan sosial dalam satu kerangka keberlanjutan.
ESG sebagai Fondasi Jangka Panjang
Palm menilai, dalam lanskap industri yang semakin transparan dan terintegrasi dengan standar global, perusahaan tidak lagi dapat mengandalkan kinerja finansial semata.
Dimensi sosial menjadi bagian dari ukuran keberhasilan jangka panjang.
“Jika kita ingin bertumbuh secara berkelanjutan, kita harus bertumbuh bersama masyarakat,” tegasnya.
Bagi SCG Indonesia, keberlanjutan sosial bukan hanya respons terhadap tekanan eksternal, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga stabilitas operasional dan reputasi perusahaan.
Program pendidikan, pemberdayaan UMKM, dan pelibatan masyarakat dalam agenda lingkungan, diposisikan sebagai fondasi relasi jangka panjang.
Baca Juga: SCG Indonesia Pastikan Semen Rendah Karbon Tak Turun Kualitas
Di tengah tuntutan transformasi industri menuju praktik yang lebih berkelanjutan, pendekatan berbasis dampak sosial dinilai menjadi elemen pembeda.
Keberadaan pabrik tidak lagi berdiri sebagai entitas terpisah dari masyarakat, tetapi sebagai bagian dari ekosistem ekonomi dan sosial yang saling menopang. (*)
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Yaspen Martinus
Tag Terkait: