Kredit Foto: Istimewa
Menurut Shierly, momentum Ramadan menjadi kesempatan untuk menyisihkan dana lebih besar dibanding bulan biasa. Jika pada bulan reguler masyarakat hanya mampu menyisihkan 10–30 persen penghasilan, maka saat menerima THR porsi tabungan dan investasi idealnya dapat ditingkatkan.
Di sisi lain, CEO dan Founder Finansialku, Melvin Mumpuni, menilai THR sebaiknya diperlakukan sebagai bonus, bukan tambahan uang belanja.
“Menurut saya, THR sebaiknya diperlakukan sebagai bonus atau tunjangan, bukan uang belanja tambahan,” katanya.
Baca Juga: Kapan THR ASN Cair? Menkeu Pastikan Rp55 Triliun Siap Disalurkan tapi Nunggu Instruksi
Ia menyebut penurunan kondisi keuangan pasca-Lebaran umumnya disebabkan tiga faktor, yakni penghasilan yang terlalu kecil, pengeluaran yang terlalu boros, atau cicilan yang terlalu besar.
Dalam membagi THR, Melvin tidak menetapkan persentase khusus. Ia lebih menekankan penggunaan dana berdasarkan skala prioritas, mulai dari zakat, uang hari raya untuk pekerja dan keluarga, hingga kebutuhan tambahan seperti mudik.
“Saya tidak ada persentase tertentu untuk pembagian THR. Saya lebih melihat ke prioritas penggunaan uang,” ujarnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: