Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Upaya Pertanian Regeneratif LDC Meningkatkan Ketahanan Rantai Pasok Kopi Indonesia

Upaya Pertanian Regeneratif LDC Meningkatkan  Ketahanan Rantai Pasok Kopi Indonesia Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Perubahan iklim adalah risiko bisnis paling nyata untuk komoditas kopi. Curah hujan yang ekstrem saat pembuahan atau panen bisa membuat produksi hancur lebur. Tanah kebun pun makin kritis gara-gara puluhan tahun dicekoki pupuk kimia. Ambil contoh Solihin, seorang petani kopi di Lampung Utara. Saking gersangnya tanah kebun yang dia garap, di tahun 2020, petani demo plot LDC ini sempat merasa frustrasi dan nyaris menebang semua pohon kopinya dengan maksud beralih ke sawit.

Realita ini membuat perusahaan komoditas global Louis Dreyfus Company (LDC) menyadari, kalau cara bertani tidak dirombak, rantai pasok komoditas pertanian global bakal runtuh. “LDC berkomitmen memastikan rantai pasok yang berkelanjutan sambil melindungi tanah dan hasil bagi petani,” kata Rajat Dutt, Country Head LDC Indonesia. “Kami bekerja sama erat dengan petani untuk menjaga kualitas tanah dan hasil panen, sekaligus memberikan kontribusi nyata kepada komunitas tempat kami beroperasi.”

Sebagai perusahaan yang sudah malang-melintang selama 175 tahun di sektor pangan, LDC membutuhkan kepastian pasokan. Makanya, lewat program Stronger Coffee Initiative (SCI), LDC langsung turun tangan membenahi cara petani bercocok tanam. Program ini telah menjangkau lebih dari 20 ribu petani kopi di Lampung, Sumatra Selatan, Sumatra Utara, dan Aceh sejak tahun 2015.

LDC tak ‘jualan’ istilah klise 'pertanian berkelanjutan'. Mereka justru mendorong apa yang disebut regenerative agriculture, atau pertanian regeneratif. Chintara Diva Tanzil, Regional Program Manager SCI LDC, menjelaskan bahwa pendekatan sustainable pada dasarnya hanya mempertahankan kondisi yang ada sekarang. Sedangkan regenerative memiliki sifat yang jauh lebih agresif, yaitu aktif memperbaiki dan memulihkan lahan yang sudah telanjur rusak atau terdegradasi.

"Fokus utama kami adalah memulihkan kesehatan tanah dan meningkatkan biodiversitas untuk memperkuat ketahanan petani terhadap perubahan iklim. Melalui pendampingan teknis dan praktik rendah karbon, kami membantu petani bertransisi menuju sistem budidaya yang lebih berkelanjutan dan produktif," kata Diva.

Program LDC menerapkan 11 praktik regeneratif, mulai dari penggunaan pupuk organik, sistem tumpang sari, hingga perlindungan tanaman terpadu. Praktik-praktik ini meningkatkan infiltrasi air, mengurangi erosi, dan mendorong penyerapan nutrisi yang lebih efektif melalui sistem akar yang lebih berkembang, kegiatan ini juga mencakup praktik agroforestri.

Dalam mengeksekusi program ini, LDC juga menggunakan pendekatan yang lebih mirip membangun ekosistem bisnis dengan menggandeng beberapa mitra strategis. Untuk menangani 'kecanduan' tanah pada bahan kimia, LDC menggandeng perusahaan agritech lokal, Pandawa Agri Indonesia.

Kukuh Roxa, CEO Pandawa Agri, mengatakan fokus mereka adalah menginovasi teknologi pertanian agar ketergantungan petani pada input kimia bisa ditekan tajam, tanpa membuat hasil panen anjlok.

“Teknologi kami telah berkontribusi pada pengurangan lebih dari 5 juta liter pestisida dan sekitar 17.500ton emisi CO₂ di wilayah ini. Kolaborasi dengan LDC memungkinkan petani menerapkan praktik ramah lingkungan sambil tetap menjaga produktivitas," ucap Kukuh Roxa.

Program ini memasukkan juga unsur insurtech alias asuransi teknologi, untuk melindungi petani secara finansial saat terjadi kondisi cuaca ekstrem. LDC bekerja sama dengan Blue Marble, pengembang teknologi asuransi asal Amerika yang fokus di asuransi berbasis indeks cuaca.

Bersama LDC, Blue Marble telah menyelesaikan pilot project asuransi parametrik cuaca pada Agustus-Desember tahun lalu di Lampung dan sekitarnya. Program ini diterapkan pada 18 demo plot kopi untuk membantu mitigasi risiko

perubahan cuaca yang dapat memengaruhi produktivitas dan pendapatan petani.

Rinaldo, Senior Analyst Blue Marble untuk Asia Tenggara, mengatakan asuransi parametrik mereka menggunakan data satelit CHIRPS yang bisa diakses semua orang untuk memantau usaha tanam yang sudah dilakukan dalam radius 5,5 km. Tak perlu lagi ada survei lapangan yang ribet atau dokumen yang berbelit. Klaim langsung cair otomatis ke rekening petani. ”Pilot project kami bersama LDC di Lampung menunjukkan bahwa pendekatan ini mendukung keberlanjutan produksi pertanian,” kata Rinaldo.

Sejak 2015, LDC telah mendukung penanaman lebih dari 860 ribu pohon untuk mempromosikan biodiversitas. Ke depannya, perusahaan menargetkan untuk menjangkau 6.000 petani Indonesia pada akhir tahun 2026. Secara global, LDC menargetkan restorasi 100 ribu hektar lahan dan pengurangan atau penghapusan 180 ribu metrik ton emisi karbon melalui rantai pasok regeneratifnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Abdul Aziz
Editor: Sufri Yuliardi