Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Iran Terancam, Negosiasi Terbaru Bikin Amerika Serikat (AS) Kecewa

Iran Terancam, Negosiasi Terbaru Bikin Amerika Serikat (AS) Kecewa Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali menggelar negosiasi tidak langsung selama berjam-jam, namun tak ada kesepakatan final yang tercapai. Hal tersebut membuat risiko konflik masih terbuka di Timur Tengah.

Negosiasi Teheran dan Washington dilaporkan mengalami kemajuan signifikan, namun tidak ada detil mengenai poin-poin maupun kesepakatan yang dicapai oleh kedua pihak di Jenewa, Swiss.

Baca Juga: Diungkap Mediator, Beginilah Hasil Negosiasi Terbaru Iran dan Amerika Serikat (AS)

Namun Utusan Gedung Putih, Jared Kushner dan Steve Witkoff dilaporkan merasa kecewa terhadap sikap delegasi dari Iran. Hal ini bisa menjadi tanda adanya ketidaksepakatan dalam sesi perundingan dengan Teheran.

Iran juga dilaporkan tetap bertekad melanjutkan pengayaan uranium, menolak proposal pemindahan stok uranium ke luar negeri serta menuntut pencabutan sanksi internasional. Sikap tersebut mengindikasikan bahwa mereka belum siap memenuhi tuntutan dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi juga menyebut pertemuan kali ini sebagai salah satu putaran paling intens dan terpanjang dalam sejarah dialog kedua negara.

“Apa yang perlu terjadi sudah kami sampaikan dengan jelas dari pihak kami,” ujar Araghchi, dikutip dari Associated Press.

AS diketahui menginginkan kesepakatan yang membatasi secara ketat program nuklir dari Iran. Washington juga mendorong pembahasan isu lain seperti program rudal balistik jarak jauh serta dukungan negara tersebut terhadap kelompok bersenjata di Timur Tengah.

Negeri Paman Sam juga mengerahkan armada besar kapal induk dan pesawat tempur menuju sekitar kawasan dari Iran. Jika diplomasi gagal, opsi militer disebut tetap terbuka bagi AS.

Iran menolak perluasan agenda tersebut dan menegaskan haknya untuk melakukan pengayaan uranium untuk tujuan damai. Mereka juga memperingatkan bahwa pangkalan militer rivalnya dalam kawasan akan menjadi target sah apabila terjadi serangan. 

Baca Juga: Siasat Amerika Serikat (AS) Terbongkar: Trump Gunakan 'Irak Playbook' Demi Serang Iran

Ketidakpastian hasil negosiasi ini menjadi perhatian pasar global. Eskalasi Timur Tengah berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia, yang berdampak langsung terhadap inflasi dan stabilitas ekonomi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar

Bagikan Artikel: