Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Obama Ragu Trump Bisa Hadirkan Kesepakatan Iran-Amerika yang Lebih Bagus daripada Warisannya di 2015

Obama Ragu Trump Bisa Hadirkan Kesepakatan Iran-Amerika yang Lebih Bagus daripada Warisannya di 2015 Kredit Foto: Instagram/Barack Obama
Warta Ekonomi, Jakarta -

Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama meragukan upaya Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dalam merundingkan kesepakatan baru dengan Iran akan menghasilkan perjanjian yang lebih menguntungkan dibandingkan kesepakatan nuklir yang pernah dibangun pemerintahannya pada 2015.

Obama menegaskan, sangat kecil kemungkinan kesepakatan yang kini tengah dinegosiasikan Washington dan Teheran akan jauh berbeda atau menjadi perbaikan signifikan dari Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), perjanjian nuklir yang disepakati pada masa pemerintahannya.

Baca Juga: Nyatakan Tidak Terima, Israel Meradang Lihat Kesepakatan Damai Amerika dan Iran

"Sangat diragukan bahwa kesepakatan apa pun yang muncul nantinya akan berbeda secara signifikan atau menjadi peningkatan besar dari kesepakatan yang kami miliki sebelumnya," kata Obama, dikutip dariĀ CNN International, Senin (15/6).

Pernyataan itu menjadi sorotan di tengah kabar bahwa pemerintahan Trump dan Iran semakin dekat menuju memorandum of understanding (MoU) untuk mengakhiri ketegangan yang berlangsung selama berbulan-bulan.

Obama seolah mengingatkan bahwa fondasi diplomatik dengan Iran sebenarnya telah dibangun sejak satu dekade lalu. Menurutnya, JCPOA merupakan hasil negosiasi panjang yang didukung komunitas internasional sebelum akhirnya ditinggalkan sendiri oleh Amerika Serikat.

Kala itu, JCPOA mengatur pembatasan ambisi nuklir Iran, pembatasan pengayaan uranium, serta membuka akses bagi inspektur dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA) untuk memeriksa fasilitas nuklir Iran. Sebagai imbalannya, AS dan negara-negara Barat mencabut sebagian sanksi ekonomi serta membuka kembali akses Iran terhadap aset-asetnya yang dibekukan.

Obama menyiratkan bahwa kesepakatan baru yang diupayakan Trump kemungkinan besar tetap akan mengacu pada prinsip-prinsip yang sama seperti perjanjian 2015.

Di sisi lain, Obama berharap proses diplomasi yang sedang berlangsung dapat menghentikan penderitaan warga sipil akibat konflik yang berkepanjangan.

"Saya berharap pengeboman berhenti dan masyarakat biasa tidak lagi menderita sebagai konsekuensi dari perang," ujarnya.

Obama kembali menekankan bahwa diplomasi seharusnya menjadi pilihan utama dibandingkan pendekatan militer. Ia mengkritik pandangan yang menganggap masalah internasional dapat diselesaikan melalui intimidasi atau kekuatan senjata.

Menurutnya, tidak semua perjanjian harus menyelesaikan 100 persen persoalan. Kesepakatan yang mampu menyelesaikan 80 hingga 90 persen masalah dan menghindarkan dunia dari perang sudah merupakan kemajuan besar.

"Kita seharusnya meluangkan waktu untuk mengeksplorasi diplomasi dan menguras seluruh kemungkinan untuk mencapai kesepakatan. Anda akan berpikir kita sudah belajar dari pelajaran itu, tetapi tampaknya sesekali kita harus mempelajarinya lagi," kata Obama.

Baca Juga: Pemerintah Klaim Stok Beras Tertinggi Sepanjang Indonesia Merdeka, Gudang Sampai Tak Cukup Menampung

Pernyataan Obama tersebut muncul di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap upaya pemerintahan Trump merampungkan kesepakatan damai dengan Iran. Namun, mantan penghuni Gedung Putih itu tampaknya tidak yakin Trump dapat menghasilkan perjanjian yang lebih baik dari warisan diplomatik yang pernah ia bangun satu dekade silam.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar