Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Usai Khamenei Tewas, Trump Buka Peluang Dialog dengan Pemimpin Baru Iran

Usai Khamenei Tewas, Trump Buka Peluang Dialog dengan Pemimpin Baru Iran Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan dirinya siap membuka jalur komunikasi dengan kepemimpinan baru Iran. Pernyataan itu muncul di tengah perubahan besar di Teheran setelah wafatnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Dalam wawancara dengan majalah The Atlantic dari kediamannya di Florida, Trump mengatakan pihak Iran telah menghubunginya lebih dulu. Ia menyebut kesediaannya berbicara sebagai respons atas permintaan tersebut.

“Mereka ingin berbicara, dan saya telah setuju untuk berbicara, jadi saya akan berbicara dengan mereka. Seharusnya mereka melakukannya lebih awal. Seharusnya mereka memberikan apa yang sangat praktis dan mudah dilakukan itu lebih awal. Mereka menunggu terlalu lama,” kata Trump.

Trump tidak menjelaskan secara rinci dengan siapa pembicaraan itu akan dilakukan. Ia juga tidak memastikan apakah dialog tersebut akan berlangsung pada Senin (2/3/2026) atau hari lain.

Situasi politik Iran berubah drastis setelah televisi pemerintah negara itu mengumumkan wafatnya Ayatollah Ali Khamenei. Kematian tersebut terjadi setelah rangkaian serangan militer yang menargetkan kota-kota utama Iran, termasuk Teheran.

Sejumlah laporan internasional menyebut serangan tersebut merupakan bagian dari operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap fasilitas strategis Iran. Pemerintah Iran kemudian menetapkan masa berkabung nasional sebagai respons atas peristiwa tersebut.

Di tengah kekosongan kepemimpinan tertinggi, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengumumkan pembentukan dewan sementara. Struktur ini terdiri dari presiden, kepala lembaga peradilan, dan seorang anggota berpengaruh dari Dewan Garda.

Dewan tersebut untuk sementara mengambil alih tugas pemimpin tertinggi hingga proses konstitusional memilih pengganti rampung. Mekanisme ini sesuai dengan aturan negara yang mengatur transisi jabatan supreme leader.

Trump dalam wawancara yang sama menyinggung perubahan signifikan di jajaran pejabat Iran. Ia menyatakan sejumlah tokoh yang sebelumnya terlibat dalam komunikasi dengan Washington kini telah meninggal dunia.

“Kebanyakan dari orang-orang itu sudah tiada. Beberapa orang yang berurusan dengan kami sudah tiada, karena itu adalah pukulan besar, itu adalah pukulan besar,” kata Trump dalam wawancara dengan jurnalis The Atlantic, Michael Scherer.

Trump juga menilai peluang kesepakatan seharusnya dapat dicapai lebih awal. Ia menekankan bahwa waktu yang terlewat membuat situasi semakin kompleks.

“Seharusnya mereka melakukannya lebih awal, Michael. Mereka bisa membuat kesepakatan. Seharusnya mereka melakukannya lebih awal. Mereka bermain terlalu licik,” tambahnya.

Perkembangan ini menempatkan hubungan AS-Iran dalam fase baru setelah bertahun-tahun ketegangan terkait isu keamanan dan kebijakan regional. Transisi kepemimpinan di Teheran membuka ruang dinamika diplomasi yang berbeda dari periode sebelumnya.

Baca Juga: Pemerintah Diminta Ambil Langkah Darurat Lindungi Ribuan Jamaah Umrah di Tengah Konflik AS - Iran

Para pengamat menilai momentum ini dapat menentukan arah hubungan kedua negara dalam jangka menengah. Stabilitas kawasan Timur Tengah turut dipengaruhi oleh bagaimana proses komunikasi dan suksesi politik di Iran berjalan dalam beberapa pekan ke depan.

Perhatian dunia kini tertuju pada langkah lanjutan dari Washington dan Teheran. Masa transisi pasca-Khamenei menjadi faktor penting dalam membaca peta geopolitik kawasan secara lebih luas.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat

Bagikan Artikel: