Harga Minyak Tembus $100, Menkeu Purbaya: MBG Tidak Dipangkas, tapi Beli Motor Pakai Anggaran Gizi Akan Dihentikan
Kredit Foto: Cita Auliana
Di tengah harga minyak mentah Brent yang sudah menembus 100 dollar per barel jauh di atas asumsi Indonesian Crude Price dalam APBN 2026 sebesar 70 dollar Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memilih berdiri di hadapan wartawan dan menyampaikan satu kepastian, anggaran Makan Bergizi Gratis tidak akan dipangkas. Yang akan dipangkas adalah belanja yang tidak langsung mendukung fungsi utamanya.
"MBG nggak akan dipotong, kecuali yang nggak produktif, MBG nggak kami potong anggarannya, tapi kami pastikan yang dibelanjakan betul-betul efektif dan efisien," kata Purbaya dikutip dari ANTARA, Senin (9/3/2026).
Purbaya sebelumnya sudah menyinggung hal ini dalam taklimat media di Kementerian Keuangan pada Jumat (7/3/2026) bahwa yang digeser bukan penyediaan makanannya, melainkan kegiatan pendukung yang tidak langsung berhubungan dengan program inti.
Salah satu yang disebut secara spesifik: pembelian kendaraan bermotor bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi.
"MBG programnya bagus, tapi kami ingin cegah kalau ada belanja yang tidak terlalu mendukung langsung makanan, misalnya beli motor," ujarnya.
Purbaya menambahkan pihaknya akan terus memantau realisasi belanja MBG secara berkala, dengan fokus memastikan anggaran yang keluar benar-benar mendukung tujuan utama program.
Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira melihat persoalan ini lebih luas dari sekadar MBG. Ia merekomendasikan pemerintah meninjau belanja tiga program sekaligus yakni Makan Bergizi Gratis, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, dan food estate sebagai pilihan yang lebih bijak ketimbang menaikkan harga BBM bersubsidi untuk menutup tekanan fiskal.
Khusus MBG, Bhima menilai sorotan dari lembaga pemeringkat global Fitch Ratings dan Moody's sudah cukup menjadi justifikasi untuk menyesuaikan anggaran program tersebut.
Realokasi belanja, menurutnya, adalah jalan tengah yang lebih aman secara politik dan ekonomi dibanding opsi kenaikan harga BBM.
Baca Juga: Harga Minyak Tembus US$113, Purbaya Bakal Evaluasi Dampaknya ke APBN
Lonjakan harga minyak Brent yang kini sudah melampaui 100 dollar per barel naik lebih dari 40 persen dari posisi awal tahun di kisaran 64–70 dollar memukul fiskal negara dari dua sisi sekaligus. Beban subsidi energi membengkak, sementara kebutuhan belanja program prioritas tidak ikut menyusut.
Harga Brent di atas 100 dollar adalah level yang belum pernah dicapai sejak pertengahan 2022 dan dengan Selat Hormuz yang masih terganggu serta Kuwait dan Irak mulai memangkas produksi, tekanan itu belum menunjukkan tanda akan mereda dalam waktu dekat.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat