Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Pasar Halal Rp4.000 Triliun, Indonesia Jadi Incaran Produsen Global

Pasar Halal Rp4.000 Triliun, Indonesia Jadi Incaran Produsen Global Kredit Foto: Azka Elfriza
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pasar industri halal Indonesia dinilai memiliki potensi ekonomi yang sangat besar dan dapat menjadi penopang utama perkembangan ekonomi syariah nasional. Nilai konsumsi produk halal di dalam negeri bahkan diperkirakan mencapai sekitar Rp4.000 triliun.

Head of BSI InstituteLuqyan Tamanni, mengatakan besarnya pasar domestik tersebut menjadi salah satu kekuatan utama industri halal Indonesia.

“Kemudian kalau kita lihat industri halal memang cukup besar, meskipun dominasinya masih di pasar domestik Rp4.000 triliun,” ujar Luqyan dalam acara Webinar Asuransi Syariah & Ekosistem Perekonomian Syariah, Rabu (11/3/2026).

Menurutnya, konsumsi produk halal di dalam negeri terus meningkat dari tahun ke tahun, terutama pada sektor makanan dan minuman. Selain itu, sejumlah sektor lain seperti media rekreasi, fashion, farmasi, dan kosmetik juga menunjukkan perkembangan positif.

Hal tersebut mencerminkan bahwa basis konsumen halal di Indonesia sangat besar.

“Kalau kita lihat konsumsi domestik juga meningkat. Alhamdulillah. Dan lagi-lagi memang demand terbesar adalah untuk makanan dan minuman halal,” kata Luqyan.

Ia menambahkan besarnya pasar domestik membuat Indonesia relatif lebih tahan terhadap guncangan eksternal, termasuk ketidakpastian geopolitik global.

“Jadi konsumsi domestik kita cukup besar sehingga kalau kita bicara geopolitik sebenarnya kita sedikit insulated atau tidak terlalu tersentuh dari faktor tersebut karena domestik kita cukup besar,” ujarnya.

Selain itu, Indonesia juga dinilai semakin menarik bagi produsen global yang tengah mencari pasar baru, terutama ketika akses ekspor ke kawasan tertentu mengalami hambatan.

Baca Juga: Industri Halal Indonesia Tumbuh Meski Geopolitik Memanas

Baca Juga: Airlangga Tegaskan Produk Halal Wajib dalam Perjanjian Dagang RI-AS

Baca Juga: Tarif Resiprokal Disepakati, Produk AS Bebas Syarat Halal di RI

“Kalau misalnya orang susah ekspor ke Gulf Cooperation Council (GCC), mereka akan mencari pasar baru. Dan Indonesia adalah sasaran dan market yang mungkin lebih mudah diakses serta ukurannya besar,” kata Luqyan.

Berdasarkan indeks konsumsi muslim yang dikembangkan oleh BSI Institute, peningkatan frekuensi konsumsi produk halal juga terlihat cukup signifikan sepanjang tahun. Momen musiman seperti Ramadan dan Idulfitri bahkan menjadi puncak konsumsi masyarakat.

“Kita punya Muslim Consumption Index. Memang kelihatan bahwa secara agregat meningkat, baik secara nominal maupun frekuensi,” ujarnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri