Transaksi Digital Ramadan Meningkat, Keamanan IT Harus Diperkuat
Kredit Foto: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Lonjakan transaksi digital selama Ramadan hingga menjelang Hari Raya Idulfitri, diprediksi meningkat signifikan.
Sehingga, sektor Perbankan, Keuangan, dan Asuransi (BFSI), dituntut memperkuat keamanan infrastruktur teknologi informasi (IT).
Associate Director ManageEngine Karthick Chandrasekar menilai, peningkatan transaksi melalui QR code, marketplace, hingga platform belanja daring, membuat sistem pembayaran menjadi target potensial serangan siber.
“Kebijakan Zero Trust berarti tidak mempercayai siapa pun."
"Bahkan saat memberikan akses, harus diimplementasikan solusi seperti autentikasi multifaktor (MFA) untuk mengamankan sistem pembayaran,” ujar Karthick dalam diskusi dan buka puasa bersama media di Jakarta, Kamis (12/3/2026).
Ia menjelaskan, selama Ramadan dan Lebaran, transaksi digital meningkat tajam di berbagai layanan seperti marketplace, restoran, hingga transfer melalui QR.
Kondisi tersebut membuat penyedia layanan harus mampu memantau komponen infrastruktur yang kompleks untuk mendeteksi anomali, terutama saat jam-jam sibuk (peak hours), sebelum berkembang menjadi insiden yang lebih besar.
Ancaman serangan siber seperti ransomware dan phishing juga menjadi perhatian utama.
Karthick menekankan pentingnya penggunaan alat pemantauan dan manajemen IT yang memiliki kemampuan observabilitas mendalam, agar perusahaan dapat memperoleh wawasan real-time terhadap kondisi infrastruktur mereka.
“Organisasi harus secara proaktif memantau dan mengelola infrastruktur IT mereka dengan alat observabilitas dan keamanan siber yang tepat,” tambahnya.
Menurutnya, pengelolaan sistem IT di Indonesia juga semakin kompleks setelah pandemi, terutama dengan munculnya pola kerja hybrid.
Perusahaan tidak hanya perlu mengamankan jaringan di kantor, tetapi juga perangkat karyawan yang bekerja dari jarak jauh.
Baca Juga: Transaksi Lebih Cepat, Begini Cara Mengaktifkan NFC di HP
Dalam kondisi tersebut, solusi manajemen endpoint menjadi salah satu teknologi yang banyak diminati di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Teknologi ini memungkinkan perusahaan memastikan setiap perangkat karyawan selalu diperbarui dengan patch keamanan terbaru, guna mencegah masuknya virus ke sistem utama. (*)
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Yaspen Martinus
Tag Terkait:
Advertisement