Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

INDEF: WFH Tak Signifikan Tekan Konsumsi BBM

INDEF: WFH Tak Signifikan Tekan Konsumsi BBM Kredit Foto: Antara/Didik Suhartono
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kepala Center of Food, Energy, and Sustainable Development Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Abra Talattov menilai kebijakan work from home (WFH) yang diinstruksikan pemerintah dapat membantu mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM), namun dampaknya diperkirakan terbatas karena bersifat jangka pendek.

Menurut Abra, kebijakan WFH merupakan langkah darurat untuk menekan konsumsi BBM di tengah meningkatnya tekanan harga minyak global akibat konflik di Timur Tengah. Namun, efektivitasnya bergantung pada cakupan dan durasi kebijakan yang diterapkan.

“Iya, WFH ini kan sebetulnya menjadi langkah darurat jangka pendek sifatnya untuk bagaimana bisa mengurangi konsumsi BBM nasional,” ujar Abra di Jakarta, Selasa (24/3/2026).

Baca Juga: INDEF: Kendaraan Listrik Jadi Strategi Redam Risiko Lonjakan Harga Minyak Dunia

Ia mencontohkan pengalaman saat pandemi Covid-19 pada 2020, ketika pembatasan aktivitas masyarakat mampu menekan konsumsi BBM nasional secara signifikan. Namun, kondisi saat ini berbeda karena kebijakan WFH yang direncanakan hanya bersifat terbatas.

“Ketika PSBB tahap pertama dilakukan data yang saya lihat itu tahun 2020 memang terjadi penurunan konsumsi BBM nasional kurang lebih 12,9% selama setahun. Tetapi kan waktu itu sifatnya PSBB-nya secara masif ya dilakukan di banyak sektor dan untuk case ini kan pemerintah mewacanakan WFH-nya baru satu hari,” kata Abra.

Meski demikian, ia menilai kebijakan tersebut tetap memiliki fungsi penting sebagai sinyal kepada masyarakat untuk mulai menghemat konsumsi energi dan beralih ke alternatif lain, seperti transportasi umum maupun kendaraan listrik.

“Saya pikir secara efektivitas mungkin tidak akan terlalu banyak mengurangi jumlah konsumsi BBM tetapi paling tidak itu yang paling penting adalah mengirim sinyal kepada masyarakat bahwa masyarakat harus mulai menyadari adanya situasi kritis,” ujarnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Istihanah