Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Upaya Diplomasi Dibuka, Menhan Amerika Serikat Kecewa Perang Iran Berakhir Terlalu Cepat

Upaya Diplomasi Dibuka, Menhan Amerika Serikat Kecewa Perang Iran Berakhir Terlalu Cepat Kredit Foto: US Army Photo/Carrie David Campbell
Warta Ekonomi, Jakarta -

Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth dilaporkan "kecewa" dengan adanya upaya diplomasi untuk menghentikan perangnya dengan Iran. Ia disebut menginginkan konflik kedua negara untuk berlangsung lebih lama di Timur Tengah.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengungkapkan bahwa salah satu menterinya itu menginginkan konflik berlangsung lebih lama, meski tanpa memberikan detail lebih lanjut. Hal ini mengindikasikan adanya dinamika internal dari AS.

Baca Juga: Buka Opsi Diplomasi, Trump Klaim Iran Beri Amerika Serikat Konsesi Migas

"Pete Hegseth tak ingin perang ini berakhir dengan begitu cepat," ungkap Trump, diktuip dari Reuters.

Trump sendiri mengungkapkan bahwa pihaknya tengah melakukan negosiasi dengan Iran. Meski tak memberikan rincian, ia mengungkapkan negosiasi melibatkan sejumlah pejabat tinggi, antara lain Steve Witkoff, Jared Kushner, Vance dan Marco Rubio.

Pakistan di sisi lain baru-baru ini menyatakan kesediaannya menjadi tuan rumah pembicaraan dari Iran dan Amerika Serikat. Hal tersebut membuka lebar peluang bagi jalur diplomasi untuk meredakan ketegangan di Timur Tengah.

Namun Iran sebelumnya membantah keras adanya negosiasi yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat. Teheran menegaskan tak akan ada negosiasi tanpa persetujuan dari Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei.

Jika Iran dan Amerika Serikat melakukan negosiasi, bukan tidak mungkin hal tersebut akan berdampak sangat besar terhadap situasi pasar global, khususnya terkait energi yang terganggu akibat disrupsi di Selat Hormuz.

Baca Juga: Harga Bitcoin (BTC) Hari Ini (25/3): Investor Pantau Gencatan Senjata Iran dan Amerika Serikat

Selat Hormuz menjadi pusat perhatian dalam konflik ini karena menjadi jalur sekitar dua puluh persen pasokan energi dunia dan menjadi alat tekanan geopolitik dari Iran. Jika diplomasi menghasilkan kesepakatan, hal tersebut berpotensi menurunkan harga minyak hingga meredakan tekanan inflasi dunia.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar