Perang Akan Panjang, Amerika Serikat Tak Sengaja Beri 'Senjata' Mengerikan ke Iran
Kredit Foto: Istimewa
Perang Iran dan Amerika Serikat berpotensi akan berlangsung panjang dengan tak adanya kejelasan terkait dengan pembukaan dari Selat Hormuz. Ia akan menjadi alat tekanan yang digunakan oleh Teheran.
Direktur Iran Project di International Crisis Group, Ali Vaez, menyebut kemampuan negara tersebut mengendalikan jalur pelayaran penting sebagai senjata disrupsi yang bahkan lebih kuat dibandingkan senjata nuklir.
Baca Juga: Iran Ungkap Cara Tembak Jet Tempur Amerika Serikat
"Dalam upaya untuk mencegah mereka mengembangkan senjata pemusnah massal, mereka malah memberikan senjata penghancur massal yang jauh lebih ampuh daripada senjata nuklir sekalipun," kata Ali Vaez.
Menurutnya, cukup dengan satu atau dua drone, mereka sudah bisa mengganggu lalu lintas kapal dan membuat jalur tersebut tidak aman bagi pelayaran komersial.
Iran dengan hal tersebut kemungkinan besar dalam waktu dekat tidak akan membuka kembali Selat Hormuz. Teheran disebut memanfaatkan kendalinya atas jalur vital tersebut sebagai alat tekanan utama terhadap Washington.
Laporan tersebut juga menilai bahwa perang yang awalnya bertujuan melemahkan ini justru berpotensi meningkatkan pengaruh regional dari Iran. Hal ini terutama melalui kemampuannya mengganggu jalur energi global di Selat Hormuz.
Vaez memperingatkan bahwa upaya militer untuk membuka kembali jalur terkait juga akan sangat berisiko. Jalur ini hanya selebar sekitar 33 km di titik tersempit, dengan jalur pelayaran efektif sekitar 3 km, membuat kapal sangat rentan terhadap serangan.
Amerika Serikat mungkin bisa mampu menguasai wilayah pesisir selatan dari Iran. Namun Islamic Revolutionary Guard Corps tetap dapat menyerang menggunakan drone dan rudal dari dalam wilayah Iran.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump berusaha meredam kekhawatiran dengan menyatakan bahwa pihaknya mampu membuka kembali jalur dari Selat Hormuz. Namun, pernyataan tersebut dinilai banyak pihak meremehkan kompleksitas dan risiko tinggi dari operasi militer dalam kawasan tersebut.
Baca Juga: Buntut Perang Iran, Trump Lakukan Reshuffle Kabinet Besar-Besaran
“Dengan sedikit waktu, kita bisa dengan mudah membuka jalur mengambil minyak, dan menghasilkan keuntungan besar,” ujarnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait:
Advertisement