Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Internal Taipei Panas, Pemimpin Oposisi Taiwan Berkunjung ke China

Internal Taipei Panas, Pemimpin Oposisi Taiwan Berkunjung ke China Kredit Foto: Reuters/Dado Ruvic
Warta Ekonomi, Jakarta -

Ketua Oposisi Utama Taiwan, Cheng Li-wun secara mengejutkan bertolak menuju China. Ia melakukan kunjungan tersebut sebagai "misi damai" di tengah meningkatnya tekanan militer dan reunifikasi dari Beijing dan Taipei.

Cheng diketahui merupakan seorang pemimpin dari Partai Kuomintang (KMT). Ia diketahui baru-baru ini akan terbang menuju Beijing. Namun belum jelas apakah politikus itu akan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping.

Baca Juga: Anggaran Tertunda, Taiwan Kian Dibayangi Ancaman Serangan dari China

Cheng menegaskan bahwa kunjungannya bertujuan membuka jalur komunikasi dan menjaga stabilitas hubungan lintas selat dari China dan Taiwan. Namun ia tak memberikan detil mengenai agenda kunjungannya tersebut di Beijing.

“Yang perlu kita tangani sekarang adalah bagaimana menciptakan hubungan lintas selat yang damai dan stabil,” katanya.

Ia menyatakan bahwa perdamaian tidak dapat dicapai hanya melalui kekuatan militer, melainkan juga melalui upaya politik. Terkait isu reunifikasi, ia menilai pembahasan tersebut masih terlalu dini.

Kunjungannya sendiri berlangsung di tengah meningkatnya tekanan militer dari China ke Taiwan. Taiper juga tengah dilanda kebuntuan politik domestik terkait rencana anggaran pertahanan tambahan sebesar US$40 miliar yang didukung oleh Amerika Serikat.

Partai Kuomintang (KMT) diketahui menunda pengesahan anggaran tersebut, memicu kritik dari pemerintah yang dipimpin Partai Democratic Progressive Party (DPP). Keduanya melontarkan pesan di media sosial dengan narasi yang berlawanan.

KMT menekankan pentingnya perdamaian sebagai fondasi kemakmuran. DPP di sisi lain menuduh partai oposisi tersebut berpotensi melemahkan pertahanan negara dan mendukung agenda dari Beijing.

China sendiri di sisi lain terus mendorong gagasan “reunifikasi damai”, meskipun tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer. Dalam beberapa pekan terakhir, mereka juga meningkatkan upaya persuasi, termasuk melalui kampanye propaganda yang menyoroti manfaat ekonomi dengan bergabungnya wilayah dari Taiwan ke China.

Adapun Senator Amerika Serikat, John Curtis memberikan pesan ke Taiwan. Ia menilai bahwa wilayah tersebut harus melihat perubahan kondisi dari Hong Kong. Menurutnya, perubahan kondisi dalam wilayah terkait harus menjadi pelajaran penting bagi Taiwan. Hong Kong diketahui kembali menjadi wilayah dari China di 1997.

Amerika Serikat dalam hal ini menyoroti pengembalian wilayah tersebut pada awalnya diikuti dengan status otonomi khusus. Namun kebijakan keamanan nasional dinilai banyak pihak telah membatasi kebebasan sipil. China sendiri menyatakan langkah itu diperlukan untuk menjaga stabilitas setelah gelombang protes besar.

Baca Juga: Korea Utara Mulai Jauhi Iran, Buka Peluang Hubungan dengan Amerika Serikat

Taiwan atas hal tersebut diminta untuk jangan meremehkan ambisi China. Curtis menilai apa yang terjadi telah menunjukkan dengan jelas arah kebijakan dari Beijing. Taiwan bisa jadi mengalami apa yang dirasakan oleh Hong Kong.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar

Advertisement