Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Investasi di Kereta Cepat Whoosh Bebani Keuangan WIKA hingga Rp 1,8 Triliun

Investasi di Kereta Cepat Whoosh Bebani Keuangan WIKA hingga Rp 1,8 Triliun Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) melaporkan kerugian besar akibat keterlibatan dalam proyek Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) atau Whoosh. Perseroan membukukan kerugian rata-rata sekitar Rp 1,7 triliun hingga Rp 1,8 triliun per tahun dari investasi tersebut.

Beban keuangan yang terus berulang setiap tahun ini menjadi tantangan berat bagi WIKA untuk mencetak laba bersih secara optimal. Selain itu, Direktur Utama WIKA Agung Budi Waskito mengakui bahwa kondisi ini sangat menekan performa finansial perusahaan.

“Tahun 2025 kalau tidak salah Rp 1,7 triliun atau Rp 1,8 triliun membukukan kerugian,” ujar Agung di Jakarta Utara, Senin (6/4/2026). Di samping itu, WIKA memiliki porsi kepemilikan saham sebesar 33,36 persen pada PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) sebagai konsorsium proyek.

Manajemen WIKA menyatakan keinginan untuk melepas kepemilikan aset pada proyek kereta cepat tersebut guna mengurangi beban tahunan. Namun, proses divestasi aset ini diakui tidak mudah karena keterlibatan perseroan tercantum dalam Peraturan Presiden.

Perusahaan telah meminta pemerintah atau Danantara untuk mempertimbangkan posisi WIKA yang sejatinya berperan sebagai kontraktor. Selain itu, keputusan mengenai pelepasan aset sepenuhnya menjadi domain kebijakan dari pihak pemerintah pusat.

“Tidak mudah buat kita untuk bisa melepas aset kereta cepat,” tegas Agung dalam keterangannya kepada awak media. Di samping itu, WIKA tetap fokus pada penyelesaian klaim pembengkakan biaya (cost overrun) senilai Rp 5,02 triliun.

Proses mediasi terkait klaim biaya tambahan tersebut saat ini masih berlangsung antara pihak WIKA dan KCIC. Terlebih lagi, kedua belah pihak sepakat untuk menunda proses arbitrase di Singapore International Arbitration Centre (SIAC).

Pemerintah menargetkan proses mediasi sengketa biaya tersebut dapat rampung sepenuhnya pada akhir tahun 2026 ini. Selain itu, penyelesaian klaim ini diharapkan dapat memberikan kepastian posisi keuangan bagi emiten konstruksi pelat merah tersebut.

Baca Juga: Wijaya Karya (WIKA) Catat Rugi Rp9,70 Triliun Sepanjang 2025

WIKA juga terus berkoordinasi dengan pemegang saham lainnya di PSBI seperti KAI, PTPN I, dan Jasa Marga. Di samping itu, komposisi pemegang saham dari pihak konsorsium Tiongkok juga dipantau dalam rangka penyelarasan kepentingan proyek jangka panjang.

Keberlanjutan operasional Whoosh tetap menjadi prioritas strategis nasional meskipun terdapat tekanan pada sisi investasi kontraktor. Dengan demikian, sinkronisasi kebijakan antara aspek penugasan negara dan kesehatan finansial BUMN menjadi kunci evaluasi ke depan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Christian Andy
Editor: Amry Nur Hidayat

Advertisement