Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengingatkan pelaku usaha untuk meningkatkan kewaspadaan dalam menghadapi dinamika harga komoditas energi global yang dapat memicu kenaikan biaya produksi di berbagai sektor industri.
Situasi ini dinilai berpotensi berdampak hingga ke harga barang di tingkat konsumen jika berlangsung dalam jangka panjang.
Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Otonomi Daerah Sarman Simanjorang menegaskan bahwa pelaku usaha saat ini cenderung bersikap hati-hati dengan mempertimbangkan kondisi daya beli masyarakat.
Ia menyebut tekanan dari sisi biaya produksi menjadi tantangan utama yang harus dihadapi industri di tengah ketidakpastian global.
Menurut Sarman, lonjakan harga energi seperti bahan bakar minyak (BBM) dan gas memberikan efek langsung terhadap biaya logistik dan distribusi. Kondisi ini diperparah oleh ketergantungan banyak industri terhadap bahan baku impor yang turut terdampak oleh fluktuasi harga energi.
Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah juga menjadi faktor yang menambah tekanan terhadap biaya produksi. Kenaikan harga bahan baku impor akibat pelemahan rupiah pada akhirnya akan mendorong peningkatan biaya yang harus ditanggung pelaku usaha.
“Pelaku usaha otomatis akan menyesuaikan harga produksi akibat kenaikan harga logistik/transportasi dan harga bahan baku dengan kenaikan biaya produksi akan mengerek kenaikan harga di tingkat konsumen,” ujar Sarman dikutip dari ANTARA.
Ia menambahkan bahwa pelaku usaha saat ini masih berupaya menahan kenaikan harga dengan mengoptimalkan efisiensi dan margin keuntungan.
Namun demikian, Sarman menegaskan bahwa kemampuan pelaku usaha dalam menahan tekanan tersebut memiliki batas waktu. Jika kondisi kenaikan biaya berlangsung terus-menerus, maka penyesuaian harga produk di tingkat konsumen menjadi langkah yang tidak terhindarkan.
Dalam kondisi tersebut, Kadin mendorong pelaku usaha untuk melakukan berbagai langkah mitigasi, termasuk inovasi dan efisiensi produksi guna menekan biaya operasional. Selain itu, strategi seperti penyesuaian volume atau ukuran produk juga dapat dipertimbangkan agar harga tetap kompetitif di pasar.
Di sisi lain, Kadin menilai peran pemerintah menjadi sangat penting dalam menjaga stabilitas ekonomi, khususnya terkait ketersediaan energi dan kestabilan nilai tukar rupiah. Upaya ini dinilai krusial untuk menjaga daya beli masyarakat agar tidak tertekan oleh potensi kenaikan harga barang.
“Pemerintah harus mampu menjaga psikologi pasar dan masyarakat menyikapi dampak geopolitik yang penuh ketidakpastian, sehingga perekonomian kita di berbagai sektor tetap produktif,” kata Sarman. Ia menekankan bahwa stabilitas kebijakan akan berpengaruh besar terhadap kepercayaan pelaku usaha dan konsumen.
Baca Juga: PMI Manufaktur Maret 2026 Turun ke 50,1, Kadin Soroti Pelemahan Permintaan Ekspor
Dengan kombinasi tekanan global, pelemahan rupiah, dan ketergantungan impor, Kadin menilai koordinasi antara pemerintah dan pelaku usaha menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan aktivitas ekonomi.
Tanpa langkah mitigasi yang tepat, kenaikan biaya produksi berpotensi meluas dan memengaruhi harga di tingkat konsumen.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait:
Advertisement