Lawan Embargo Amerika Serikat, Rusia Janji Tak Akan Tinggalkan Kuba: Mereka Adalah Prioritas
Kredit Foto: Getty Images
Rusia menegaskan tidak akan meninggalkan Kuba. Moskow berkomitmen membantu negara tersebut mengatasi krisis energi akibat embargo dari Amerika Serikat.
Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov mengatakan pihaknya akan terus memperkuat dukungan, termasuk pasokan energi yang lebih besar ke Havana.
Baca Juga: Tak Hanya Digempur Rusia, Musim Semi-Panas Akan Berat bagi Ukraina
“Saya yakin bahwa peristiwa beberapa minggu terakhir dalam hubungan kita akan membawa kita bergerak maju untuk menemukan solusi bagi masalah-masalah terberat. yang muncul dari blokade ilegal dan sama sekali tidak dapat diterima terhadap pulau itu oleh Amerika Serikat,” kata Ryabkov.
Ia menegaskan bantuan pihaknya tidak akan berhenti pada pengiriman minyak sebelumnya, termasuk dari kapal tanker dari Anatoly Kolodkin. Kapal tersebut membawa sekitar 700.000 barel minyak ke Kuba.
“Kita tidak bisa mengkhianati Kuba. Itu tidak mungkin. Kita tidak bisa meninggalkannya sendirian. Kebutuhan energi mereka adalah prioritas,” kata Ryabkov.
“Terlalu dini untuk mengatakan apa langkah selanjutnya. Tetapi jelas bahwa kita tidak akan membatasi pasokan kita pada muatan yang ada di atas kapal tanker Anatoly Kolodkin,” tambah Ryabkov.
Moskow juga menegaskan tidak akan mundur dari kepentingannya di belahan barat, meskipun mendapat tekanan dari Amerika Serikat. Washington menurutnya “terobsesi” mendorong pihaknya untuk keluar dari kawasan tersebut.
"Rusia tidak berencana untuk meninggalkan belahan bumi ini, apa pun yang dikatakan Washington. Mereka terobsesi untuk mengusir Rusia dan China,” kata Ryabkov.
Rusia juga mengkritik embargo terhadap Kuba. Amerika Serikat menurutnya telah melakukan tindakan ilegal dan tidak dapat diterima. Menurut Ryabkov, pendekatan tekanan seperti sanksi dan penggunaan kekuatan tidak menghasilkan hasil yang diinginkan, merujuk pada konflik global termasuk di Timur Tengah.
Dukungan Rusia menambah ketegangan geopolitik dalam kawasan, terutama di tengah rivalitas global dengan Amerika Serikat. Kuba dalam hal ini bisa menjadi lebih kuat untuk menghadapi tekanan ekonomi dan energi akibat embargo yang telah berlangsung lama.
Sebelumnya, Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel, menyatakan negaranya telah meminta adanya dialog tanpa syarat dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Ia menegaskan bahwa pihaknya tidak akan menerima tuntutan perubahan sistem politik sebagai prasyarat pembicaraan dengan Washington.
Diaz-Canel menekankan bahwa kepemimpinannya merupakan mandat langsung dari Kuba. Ia juga menolak kemungkinan mundur dari jabatan, dengan menyebut bahwa konsep menyerah atau mengundurkan diri tidak sejalan dengan prinsip revolusi yang dianut pemerintahannya.
Baca Juga: Ekonomi Dunia Bergejolak, Rusia Salahkan Trump: Konsekuensi Serangan Amerika Serikat ke Iran
"Konsep kelompok revolusioner menyerah dan mengundurkan diri bukanlah bagian dari kosakata kami," kata Diaz-Canel.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: