Kredit Foto: Aalvinsu
Di tengah percepatan ekonomi digital yang kian agresif, banyak pelaku usaha terjebak dalam perlombaan konten tanpa fondasi yang jelas. Akibatnya, brand terlihat aktif di permukaan namun gagal membangun loyalitas yang dalam. Menanggapi fenomena ini, Alvin, seorang TEDx Speaker sekaligus konsultan branding di Kernel Future, membedah urgensi transformasi branding dari sekadar intuisi kreatif menuju keputusan berbasis data.
Dalam sesi wawancara bersama Warta Ekonomi, Alvin menyoroti bahwa kesalahan fundamental banyak brand saat ini adalah memisahkan kreativitas dari data perilaku audiens.
“Banyak brand yang hanya mengejar angka vanity metrics. Padahal, brand yang kuat lahir dari data, bukan sekadar kreativitas visual. Tanpa pemahaman yang jelas tentang audiens, strategi digital sering kali berubah menjadi sekadar kebisingan digital yang tidak menghasilkan konversi,” tegas Alvin.
Percakapan ini berlangsung bertepatan dengan peluncuran buku dan e course Panduan Data Driven Digital Branding Lengkap. Alvin menekankan bahwa data dan AI membantu brand membuat keputusan yang dapat diuji, bukan sekadar mengikuti intuisi.
Relevansi sebagai Mata Uang Kepercayaan
Alvin menjelaskan bahwa strategi personalisasi yang presisi adalah kunci di tengah membludaknya informasi. Merujuk pada riset Accenture dalam laporan “Personalization Pulse Check”, ditemukan bahwa 75% konsumen lebih mungkin membeli dari brand yang menawarkan personalisasi. Namun, terdapat sisi lain yang harus diwaspadai pelaku industri.
“Data Accenture juga mengungkap bahwa 39% konsumen mengaku pernah meninggalkan situs karena merasa kewalahan oleh terlalu banyak pilihan. Ini menyoroti bahwa personalisasi bukan sekadar 'ada', tetapi harus memiliki relevansi yang kuat agar tidak menjadi beban bagi pelanggan,” tambah Alvin.
Validasi Riset UGM: Dampak Nyata pada Gen Z Indonesia
Menariknya, urgensi ini juga divalidasi oleh temuan lokal dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Riset terbaru yang dikembangkan oleh Vieri Rizkitama di bawah supervisi Bayu Sutikno, S.E., M.S.M., Ph.D. dan I Wayan Nuka Lantara, M.Si., Ph.D. (2025) berjudul “The Impact of AI-driven Personalized Marketing on Consumer Satisfaction and Purchasing Behavior Among Young E-commerce Users in Indonesia”, memberikan gambaran empiris yang kuat.
Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain survei potong lintang terhadap 153 responden valid dari kalangan Generasi Z berusia 18–25 tahun. “Hasil analisis regresi dari riset UGM ini menunjukkan korelasi positif yang signifikan antara persepsi personalisasi berbasis AI dengan kepuasan dan perilaku pembelian nyata. Ini membuktikan bahwa bagi konsumen muda Indonesia, strategi data-driven yang saya ulas dalam Panduan Data Driven Digital Branding Lengkap memiliki dasar ilmiah yang sangat relevan dengan perilaku pasar saat ini,” jelas Alvin.
Efisiensi Anggaran: Bebaskan hingga 30% Budget Pemasaran
Dalam percakapan tersebut, Alvin memaparkan framework kerja yang ia kembangkan untuk membantu tim pemasaran bekerja lebih terukur. Bardan Mahdali, mantan Director of Digital, Branding, Marketing, Strategy Forbes Indonesia, memberikan apresiasi tinggi terhadap pendekatan ini karena mampu mengubah pengamatan subjektif menjadi keputusan bisnis yang repeatable.
Keunggulan dari penerapan analitik data ini bukan hanya soal citra, tetapi juga efisiensi biaya. Berdasarkan artikel McKinsey & Company berjudul “The secret to great marketing analytics? Connecting with decision makers”, penggunaan analitik secara efektif terbukti memberikan dampak finansial yang signifikan.
“Penerapan analitik data yang efektif dapat membantu perusahaan membebaskan atau menghemat sekitar 15 hingga 30 persen dari total anggaran pemasaran mereka. Jadi, data bukan hanya soal kreativitas, tapi soal efisiensi bottom-line perusahaan,” tegas Alvin.

Masa Depan Branding: Integrasi Trust dan Brand Memory
Menutup wawancara, Alvin menekankan bahwa di era AI-first, pelaku bisnis harus mampu menaikkan dua fondasi utama secara simultan: trust (rasa aman konsumen) dan brand memory (kemudahan brand diingat).
Astrie Suhaimi, mantan Agency Leader Google Indonesia, menambahkan bahwa struktur riset audiens berbasis AI dalam metode Alvin membuat strategi ini operasional bagi berbagai skala tim. “Asumsi adalah biaya tersembunyi yang sangat mahal. Melalui AI dan data, kita bisa menemukan kebutuhan audiens lebih cepat dan akurat. Di Kernel Future, kami berkomitmen membantu brand agar tidak hanya terlihat aktif, tetapi benar-benar dipercaya oleh pasar,” tutup Alvin.
Seluruh alat kerja praktis, template evaluasi pesan, hingga panduan riset berbasis AI telah dirangkum secara lengkap dalam buku dan e-course Panduan Data Driven Digital Branding Lengkap di Kernel Future.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait:
Advertisement