Kredit Foto: Kemenperin
Dalam upaya meningkatkan efisiensi produksi sekaligus memperkuat ketahanan industri di tengah dinamika global, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong penerapan teknologi tepat guna melalui tungku Beehive.
Teknologi ini diimplementasikan oleh Balai Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri (BSPJI) Manado kepada pelaku industri kecil dan menengah (IKM) arang tempurung kelapa di Desa Rumengkor, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi tepat guna menjadi kunci menjaga keberlanjutan industri nasional di tengah tantangan global.
“Di tengah dinamika yang memnbutuhkan kecepatan produksi, industri dalam negeri perlu meningkatkan efisiensi dan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya lokal. Penggunaan teknologi seperti tungku Beehive ini tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga lebih hemat energi dan ramah lingkungan,” ujar Menperin, dikutip dari siaran pers Kemenko Perekonomian, Rabu (15/4).
Menperin menegaskan, transformasi teknologi di sektor IKM merupakan bagian dari strategi memperkuat struktur industri nasional sekaligus mendorong hilirisasi komoditas berbasis sumber daya alam dalam negeri.
“Pemanfaatan teknologi yang tepat akan mendorong peningkatan kualitas produk, memperluas akses pasar, serta memperkuat daya saing industri nasional, termasuk industri berbasis komoditas kelapa yang memiliki potensi besar di pasar global,” tambahnya.
Teknologi tungku Beehive yang diterapkan BSPJI Manado merupakan metode karbonisasi modern yang mampu menghasilkan proses pembakaran lebih stabil dan efisien. Dengan kapasitas bahan baku sekitar 4 ton tempurung kelapa per batch, teknologi ini mampu menghasilkan rendemen 28–30 persen dengan kadar air rendah sekitar 5 persen. Efisiensi tersebut jauh lebih baik dibandingkan metode konvensional yang cenderung boros energi dan menghasilkan kualitas produk yang tidak seragam.
Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Emmy Suryandari menyampaikan bahwa transformasi layanan jasa industri saat ini tidak hanya berfokus pada pemenuhan standar, tetapi juga pada peningkatan efisiensi dan keberlanjutan industri.
“Transformasi layanan ini menjadi strategi untuk membangun ekosistem industri yang lebih terstandar, efisien dalam penggunaan energi, berdaya saing, dan berorientasi ekspor,” jelas Emmy.
Sementara itu, Kepala BSPJI Manado Soni Pitriajaya mengemukakan, implementasi tungku Beehive merupakan langkah nyata dalam mempercepat hilirisasi komoditas kelapa di tingkat IKM sekaligus menjawab tantangan efisiensi produksi.
“Kami berharap teknologi ini dapat menjadi standar baru bagi IKM arang tempurung kelapa. Dengan proses yang lebih efisien, pelaku industri tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga mampu menghemat penggunaan energi dan meningkatkan kualitas produk agar kompetitif di pasar global,” tuturnya.
Baca Juga: Di Tengah Gejolak Timur Tengah, Dunia Justru Percaya Ekonomi Indonesia Tetap Tangguh
Baca Juga: Presiden Prabowo Disambut Pasukan Kehormatan di Istana Élysée, Perkuat Hubungan Indonesia–Prancis
Apalagi, Sulawesi Utara sebagai salah satu daerah penghasil kelapa utama memiliki potensi besar dalam pengembangan industri turunan berbasis kelapa. Pemanfaatan tempurung kelapa menjadi arang bernilai ekspor diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus membuka peluang usaha dan lapangan kerja baru bagi masyarakat.
Kemenperin optimistis, melalui program alih teknologi dan pendampingan seperti yang dilakukan BSPJI Manado, pelaku IKM dapat lebih adaptif dalam menghadapi tantangan global, termasuk fluktuasi energi, serta mampu memperkuat kemandirian industri nasional melalui optimalisasi sumber daya domestik.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Tag Terkait:
Advertisement