Kredit Foto: Dok. BPMI
Pemerintah menegaskan komitmennya memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah yang berdampak pada jalur distribusi vital Selat Hormuz.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa pemerintah terus memperkuat bauran kebijakan untuk memitigasi berbagai risiko global.
Ini disampaikan Menko Airlangga dalam keynote speech secara virtual pada Focus Group Discussion (FGD) Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Bidang International Affairs, Jumat (17/04/2026).
“Ketegangan geopolitik, khususnya di kawasan Timur Tengah dan jalur strategis seperti Selat Hormuz, perlu diantisipasi karena berpotensi mengganggu rantai pasok global dan memicu kenaikan harga energi,” ujarnya, dikutip dari siaran pers Kemenko Perekonomian, Selasa (21/4).
Dari sisi fiskal, penguatan APBN dilakukan melalui optimalisasi penerimaan, efisiensi belanja, serta refocusing anggaran ke sektor produktif. Sementara itu, dari sisi moneter dan sektor keuangan, koordinasi erat dengan Bank Indonesia dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai instrumen, termasuk intervensi pasar dan penguatan kerja sama transaksi mata uang lokal.
Untuk menjaga daya beli masyarakat, Pemerintah juga mempercepat penyaluran berbagai stimulus fiskal, termasuk bantuan pangan dan program perlindungan sosial, serta memperkuat ketahanan energi melalui implementasi program biodiesel B50 dan pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT). Langkah-langkah tersebut diharapkan mampu meredam dampak gejolak global terhadap ekonomi domestik.
Di sisi lain, Pemerintah juga terus memperluas kerja sama internasional sebagai bagian dari strategi diversifikasi risiko dan penguatan akses pasar. Berbagai perjanjian perdagangan seperti Indonesia–EU CEPA, Indonesia–Canada CEPA, serta kerja sama dengan kawasan Eurasia menjadi langkah strategis dalam memperluas jangkauan ekspor dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global.
Baca Juga: Pemerintah Diminta Selamatkan Nasib 1,1 Juta PPPK Paruh Waktu, Ada Apa?
Baca Juga: Harga BBM Naik, Pakar ITB Bongkar Cara Hemat yang Justru Salah
Selain itu, penguatan kerja sama bilateral, termasuk hasil kunjungan Presiden Prabowo ke Rusia, turut mendukung ketahanan energi, industri, serta stabilitas ekonomi nasional. Pada sektor energi, pasokan minyak mentah dan LPG diamankan melalui skema G2G dan B2B, dengan rencana pengembangan kontrak jangka panjang, infrastruktur penyimpanan, serta penjajakan kerja sama nuklir dan mineral. Di bidang industri, kedua negara mendorong penguatan manufaktur dan hilirisasi sumber daya mineral untuk meningkatkan nilai tambah domestik. Rusia juga berkomitmen untuk mendukung kepentingan strategis Indonesia, termasuk dalam hal aksesi ke BRICS dan konsultasi isu global, sementara kerja sama ekonomi diperluas melalui peningkatan perdagangan, investasi, dan pendalaman kerja sama moneter guna memperkuat ketahanan ekonomi kedua negara.
Sebagai penutup, Menko Airlangga juga menyampaikan partisipasi Indonesia dalam berbagai forum internasional seperti AZEC juga menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan energi kawasan. Melalui kolaborasi tersebut, Indonesia mendorong pengembangan energi bersih dan diversifikasi sumber energi sebagai langkah strategis menuju transisi energi berkelanjutan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Tag Terkait:
Advertisement