Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Dekarbonisasi Industri: 5 Pilar Jadi Kunci RI Capai Net Zero 2050

Dekarbonisasi Industri: 5 Pilar Jadi Kunci RI Capai Net Zero 2050 Kredit Foto: Kemenperin
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan komitmen untuk mencapai target Net Zero Emission (NZE) bagi sektor industri pada tahun 2050. Target ini bahkan dipatok 10 tahun lebih cepat dibandingkan komitmen nasional secara umum.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menekankan bahwa pencapaian target tersebut dilakukan melalui strategi dekarbonisasi yang terukur dan berkelanjutan.

“Pemerintah berkomitmen untuk mempercepat transformasi industri menuju rendah karbon. Sektor industri kita targetkan dapat mencapai NZE pada tahun 2050 melalui berbagai langkah strategis yang terukur dan implementatif,” ujar Menperin, dikutip dari siaran pers Kemenperin, Selasa (21/4).

Menperin menjelaskan, strategi dekarbonisasi industri difokuskan pada upaya reduksi emisi sebagai prioritas utama sebelum memasuki tahap netralisasi emisi. Pendekatan ini dinilai lebih efektif dalam menekan jejak karbon industri secara bertahap namun berkelanjutan.

Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Emmy Suryandari menyampaikan bahwa implementasi strategi dekarbonisasi dilakukan melalui lima pilar utama.

“Strategi ini dilaksanakan melalui lima pilar utama, yaitu efisiensi energi dan bahan baku melalui optimalisasi proses produksi, substitusi bahan bakar dan bahan baku, pembaruan proses produksi menggunakan teknologi yang lebih efisien, elektrifikasi, serta penerapan teknologi Carbon Capture Utilization (CCU),” ungkapnya pada forum internasional INTERCEM Asia 2026 di Jakarta.

Lebih lanjut, sektor industri semen menjadi salah satu fokus utama dalam agenda dekarbonisasi nasional. Indonesia sebagai produsen semen terbesar di Asia Tenggara dengan kapasitas mencapai 121,66 juta ton per tahun memiliki peran strategis dalam upaya penurunan emisi.

Kemenperin sedang menyusun Peta Jalan Dekarbonisasi Industri Semen sebagai panduan implementasi yang terstruktur. Capaian sektor ini bahkan telah menunjukkan hasil yang sangat bagus, dimana hal tersebut ditunjukkan dengan penurunan clinker factor menjadi 68,1 persen dari baseline 81 persen pada tahun 2010, serta peningkatan penggunaan energi alternatif (Thermal Substitution Rate/TSR) menjadi 12,58 persen dari sebelumnya 3 persen.

Selain itu, emisi spesifik industri semen juga berhasil ditekan menjadi 566,3 kg COâ�� per ton semen ekuivalen, jauh lebih rendah dibandingkan kondisi awal sebesar 724 kg COâ�� per ton semen. 

Menperin menambahkan, keberhasilan ini tidak terlepas dari sinergi antara pemerintah, pelaku industri, dan asosiasi dalam mendorong implementasi teknologi ramah lingkungan. “Kami optimistis industri nasional, khususnya sektor semen, mampu terus meningkatkan efisiensi sekaligus memperkuat daya saingnya di pasar global melalui penerapan prinsip industri hijau,” tegasnya.

Di sisi kebijakan, pemerintah juga terus memperkuat ekosistem industri melalui berbagai instrumen strategis, antara lain penerapan wajib Standar Nasional Indonesia (SNI) semen sesuai Permenperin Nomor 26 Tahun 2024, serta optimalisasi kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang saat ini telah mencapai kisaran 74,66 persen hingga 98,32 persen di sektor semen.

Transformasi industri juga diperkuat melalui implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0 serta penerapan Standar Industri Hijau (SIH) guna mendorong efisiensi, produktivitas, dan keberlanjutan.

Baca Juga: Selat Hormuz Memanas, Pemerintah Siapkan Jurus Selamatkan Ekonomi Nasional

Baca Juga: Industri Otomotif Tertekan, Strategi Kendaraan Listrik Jadi Solusi Selamatkan 1,5 Juta Tenaga Kerja

Kemenperin turut mendorong kolaborasi global dalam mempercepat dekarbonisasi industri. Hal ini tercermin dari penyelenggaraan INTERCEM Asia 2026 yang dihadiri lebih dari 300 pelaku industri dari berbagai negara, termasuk Asia, Timur Tengah, Eropa, Afrika, dan Amerika.

Melalui forum ini, Indonesia mempertegas posisinya sebagai mitra strategis dalam pengembangan industri semen global yang lebih tangguh, efisien, dan berkelanjutan. “Kami membuka peluang kerja sama seluas-luasnya dengan mitra internasional untuk mempercepat inovasi dan transformasi industri menuju ekonomi rendah karbon,” pungkasnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya

Advertisement