Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Strategi Ekonomi Kreatif Tedja Coffee Bidik Pasar Gen Z dan Profesional di Bandung

Strategi Ekonomi Kreatif Tedja Coffee Bidik Pasar Gen Z dan Profesional di Bandung Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
Warta Ekonomi, Bandung -

Pertumbuhan industri kopi di Kota Bandung kembali menunjukkan dinamika menarik. Salah satunya ditunjukkan oleh Tedja Coffee, brand lokal yang mengusung pendekatan berbeda dengan menggabungkan konsep gaya hidup sehat, produktivitas, dan kekuatan komunitas sebagai strategi ekonomi kreatif.

Berada di kawasan Jalan Saparua, Kota Bandung yang dikenal aktif dengan aktivitas olahraga dan komunitas, Tedja Coffee memanfaatkan lokasi strategis ini untuk membangun ekosistem bisnis berbasis pengalaman. Kehadiran fasilitas olahraga seperti lapangan tenis hingga ruang komunitas menjadi nilai tambah yang mendorong peningkatan kunjungan sekaligus memperpanjang durasi konsumsi pelanggan.

CEO Tedja Coffee, Putra Ilham, mengungkapkan bahwa segmentasi utama menyasar anak muda, khususnya Gen Z. Namun dalam praktiknya, pasar mereka meluas hingga kalangan profesional dan komunitas bisnis internasional yang menjadikan tempat ini sebagai basecamp aktivitas.

“Segmentasi kami memang Gen Z, tapi milenial dan profesional juga banyak. Bahkan komunitas bisnis internasional cukup aktif di sini,” ujar Putra, Sabtu (25/4/2026).

Dari sisi ekonomi, pendekatan ini terbukti efektif. Tedja Coffee tidak hanya menjual produk, tetapi juga menciptakan demand melalui aktivitas komunitas seperti olahraga, event hingga gathering. 

Kapasitas venue yang mampu menampung hingga 150 orang dalam satu acara menjadi potensi pendapatan tambahan di luar penjualan harian.

Selain itu, diferensiasi produk menjadi kunci daya saing. Tedja Coffee menghadirkan menu berbasis kebutuhan gaya hidup sehat dengan mencantumkan informasi kalori di setiap produk. Inovasi seperti “Power Latte” yang mengandung protein hingga varian unik seperti “Dirty Latte”, “Mont Blanc”, dan “Tiger Boom” menjadi strategi untuk menarik pasar niche sekaligus meningkatkan margin produk.

Tidak hanya itu, rantai pasok juga diperkuat dengan menggandeng sekitar 50 petani kopi, termasuk 15 petani dari Jawa Barat. Langkah ini tidak hanya menjaga kualitas bahan baku, tetapi juga menciptakan efek ekonomi berkelanjutan bagi sektor hulu.

Dalam konteks pemasaran, Tedja Coffee mengoptimalkan platform digital seperti Instagram dan TikTok untuk memperkuat engagement. Mereka bahkan membangun identitas pelanggan melalui komunitas “Warga Teja” sebagai bentuk strategi loyalitas berbasis membership.

Ekspansi bisnis pun dilakukan secara bertahap dan terukur. Setelah sukses di wilayah Bandung Timur seperti Margahayu dan Antapani, kini Tedja Coffee mulai merambah pusat kota, termasuk Saparua. Saat ini, total sudah tujuh gerai beroperasi di Bandung.

Meski demikian, Putra Ilham menegaskan bahwa keberlanjutan bisnis menjadi tantangan utama di industri F&B. Banyak usaha yang gagal karena tidak memiliki perencanaan jangka panjang dan kurang membangun komunitas pelanggan.

Baca Juga: Banjir Produk Impor di Dalam Negeri, Begini Cara Brand Lokal Bandung Melejit hingga Tembus Pasar Swiss

“Bisnis ini harus terus inovasi dan peka terhadap kebutuhan konsumen. Komunitas dan kualitas SDM jadi kunci utama agar bisa bertahan,” katanya.

Dengan harga produk yang relatif terjangkau, mulai dari Rp20 ribuan, Tedja Coffee berupaya menjaga keseimbangan antara value dan kualitas. Ke depan, mereka juga mulai membuka peluang ekspansi ke luar kota hingga pasar internasional.

Fenomena ini menunjukkan bahwa industri kopi tidak lagi sekadar bisnis minuman, tetapi telah berkembang menjadi bagian dari ekosistem ekonomi kreatif yang menggabungkan gaya hidup, komunitas, dan inovasi produk.

Di tengah persaingan ketat, strategi berbasis pengalaman dan komunitas seperti yang dilakukan Tedja Coffee menjadi model bisnis yang semakin relevan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, khususnya di kalangan generasi muda.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Saepulloh
Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait: