Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Perketat Tekanan, Amerika Serikat Bikin Iran Rugi US$170 Juta/hari

Perketat Tekanan, Amerika Serikat Bikin Iran Rugi US$170 Juta/hari Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
Warta Ekonomi, Jakarta -

Amerika Serikat menyatakan bahwa pihaknya akan terus meningkatkan tekanan terhadap Iran. Hal ini menyusul belum usainya konflik kedua negara yang terus berkecambuk di Timur Tengah.

Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent menyatakan pihaknya telah meningkatkan tekanan finansial terhadap negara tersebut guna melemahkan jaringan ekonomi Teheran. Lewat “Economic Fury”, pihaknya tengah menargetkan berbagai jaringan penting dari Iran.

Baca Juga: Efek Perang Iran, Uni Emirat Arab Keluar dari OPEC

"Kami telah menargetkan infrastruktur perbankan bayangan internasional, akses ke kripto, armada bayangan, serta jaringan pengadaan senjata dari Iran," ujarnya.

Langkah tersebut juga ditujukan untuk memutus pendanaan kelompok proksi serta kilang independenyang mendukung perdagangan minyak dari Iran. Bessent mengklaim kebijakan tersebut telah mengganggu puluhan miliar dolar pendapatan dari Teheran.

"Tindakan ini telah mengganggu puluhan miliar dolar yang sebelumnya digunakan untuk mendanai pemerintah dari Iran," katanya.

Menurutnya, tekanan tersebut menyebabkan inflasi dmeningkat dua kali lipat dan nilai mata uangnya melemah tajam. Semua hal tersebut akan menjadi tekanan ekonomi yang dirasakan oleh Iran.

Amerika Serikat juga menerapkan blokade terhadap pelabuhan yang berdampak langsung pada perdagangan minyak dari Iran. Bessent menyebut terminal ekspor utama dari negara itu mendekati kapasitas penyimpanan maksimum.

"Kondisi ini akan memaksa rezim mereka mengurangi produksi minyak," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa situasi tersebut menyebabkan kerugian sekitar US$170 juta per hari bagi Iran. Selain itu, tekanan ini juga disebut berpotensi menimbulkan kerusakan permanen pada infrastruktur minyak dari negara tersebut .

Langkah ini merupakan bagian dari kampanye “maximum pressure” dari Amerika Serikat. Washington ingin memaksa negara tersebut untuk bernegosiasi dengan kondisinya.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa negara tersebut berada dalam kondisi kolaps. Teheran juga diklaim telah meminta kepadanya untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

"Iran baru saja memberi tahu kami bahwa mereka berada dalam ‘kondisi kolaps’. Mereka ingin kami membuka Selat Hormuz. Mereka di sisi lain mencoba menyelesaikan situasi kepemimpinan mereka," kata Trump.

Trump tidak menjelaskan bagaimana pesan tersebut disampaikan oleh Iran. Oleh karenanya, belum dapat dipastikan jalur komunikasi yang digunakan antara Teheran dan Amerika Serikat.

Adapun saat ini, belum ada tanda-tanda berlanjutnya negosiasi damai dari Iran dan Amerika Serikat. Trump dilaporkan tidak senang atas prorposal baru dari Iran. Ia tidak puas dengan proposal itu karena hal tersebut tidak menyentuh isu utama terkait program nuklir dari Teheran.

Proposal Iran sendiri dilaporkan mencakup penundaan pembahasan program nuklir hingga perang berakhir dan isu pelayaran di Selat Homruz. Namun, pendekatan ini bertentangan dengan posisi isu nuklir dari Washington.

Tahap awal proposal tersebut mencakup penghentian perang serta penyelesaian blokade laut dan pembukaan kembali wilayah dari Selat Hormuz. Selat ini merupakan jalur vital bagi distribusi energi global yang saat ini terganggu akibat konflik.

Iran, setelah isu keamanan dan pelayaran diselesaikan, ingin pembahasan berlanjut ke program nuklir, termasuk tuntutan pengakuan hak memperkaya uranium untuk tujuan damai.

Baca Juga: Houthi Yaman Kecam 'Pembajakan' Kapal Iran: Waspada Eskalasi Bisa Sampai ke Selat Bab al-Mandeb!

Namun, Washington menegaskan bahwa isu nuklir harus menjadi bagian dari negosiasi sejak awal. Ia ingin hal tersebut menjadi syarat utama dalam setiap kesepakatan dari Iran dan Amerika Serikat.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar