Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

AAUI Sebut Penurunan Volume Perjalanan Jadi Ancaman Besar Asuransi

AAUI Sebut Penurunan Volume Perjalanan Jadi Ancaman Besar Asuransi Kredit Foto: Azka Elfriza
Warta Ekonomi, Jakarta -

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum IndonesiaCipto Hartono, menegaskan premi asuransi penerbangan tidak serta-merta dipengaruhi kenaikan harga tiket pesawat sebesar 9%–13% pada April 2026. Menurutnya, penentu utama harga premi justru berasal dari jumlah peserta, durasi perjalanan, serta rute penerbangan yang ditempuh.

“Premi asuransi itu tidak serta-merta langsung terkoneksi dengan harga jual tiket. Jadi lebih kepada jumlah peserta, durasi perjalanan, dan tujuan perjalanannya,” ujar Cipto usai Seminar Nasional “Antisipasi Dampak Perang AS dan Israel vs Iran terhadap Stabilitas Pertumbuhan Industri Perasuransian” di Jakarta, Rabu (29/4/2026).

Menurut dia, struktur premi umumnya sudah disepakati sejak awal kontrak, khususnya pada segmen travel agency. Dalam skema tersebut, tarif premi biasanya dikunci dalam periode tertentu, misalnya satu tahun, sehingga tidak mudah berubah mengikuti harga pasar.

“Biasanya tarifnya sudah disepakati di awal. Kita harus membedakan antara segmen ritel dan travel agency. Untuk travel agency, umumnya sudah ada kesepakatan sebelumnya sehingga angkanya terkunci untuk periode tertentu, misalnya satu tahun,” jelasnya.

Sementara itu, pada segmen ritel, premi dinilai lebih fleksibel karena mengikuti sejumlah komponen dalam harga tiket. Meski demikian, Cipto menegaskan tekanan utama industri asuransi penerbangan saat ini bukan berasal dari kenaikan tarif premi, melainkan dari penurunan volume perjalanan.

“Yang menjadi persoalan ketika jumlah penerbangan semakin sedikit dan pembatalan penerbangan semakin banyak. Ini yang berdampak pada premi di industri asuransi umum,” katanya.

Penurunan jumlah penerbangan internasional secara langsung mengurangi jumlah polis yang terjual. Padahal, penjualan produk asuransi perjalanan sangat bergantung pada aktivitas perjalanan masyarakat.

Baca Juga: Konflik Selat Hormuz Berkepanjangan, Industri Asuransi Dibayangi Lonjakan Klaim?

Baca Juga: OJK Perpanjang Batas Laporan Keuangan Asuransi dan Kewajiban SLIK hingga 2027

Baca Juga: Geopolitik Memanas, Industri Asuransi Kelautan Kena Imbas

“Tekanan di industri asuransi umum sebenarnya bukan karena kenaikan tarif premi, tetapi lebih kepada volume perjalanan. Semakin sedikit masyarakat bepergian ke luar negeri, semakin sedikit pula yang membeli asuransi perjalanan,” ujarnya.

Cipto menilai dinamika industri asuransi penerbangan saat ini masih sangat sensitif terhadap mobilitas penumpang dibandingkan fluktuasi harga tiket, terutama di tengah ketidakpastian global dan konflik geopolitik yang memengaruhi industri penerbangan internasional.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri