Kredit Foto: Unsplash/Venti Views
Lonjakan risiko lingkungan dan krisis tenaga kerja maritim mulai menekan industri asuransi kelautan di Asia seiring meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem, keterbatasan awak kapal, serta gangguan operasional yang berdampak pada biaya asuransi dan aktivitas pelayaran.
Melansir laporan Braving New Worlds: The QBE Marine Insurance Risk Outlook for Asia 2026 yang dirilis QBE Asiamelalui InsuranceAsia, tekanan lingkungan menjadi salah satu risiko utama yang terus meningkat di industri maritim.
Laporan tersebut mencatat frekuensi cuaca ekstrem kini berada pada level tertinggi dalam lima tahun terakhir dibandingkan periode mana pun sejak 1900. Kondisi itu berdampak langsung terhadap operasional kapal, termasuk meningkatnya risiko gangguan teknis akibat kenaikan suhu laut yang membebani sistem pendingin kapal.
Selain itu, ekspansi jalur pelayaran ke wilayah baru seperti Northern Sea Route turut meningkatkan kompleksitas risiko. Operator kapal dinilai menghadapi kondisi pelayaran yang belum familiar sehingga memperbesar potensi gangguan operasional dan klaim asuransi.
Dari sisi tenaga kerja, industri maritim juga menghadapi tekanan serius. Laporan tersebut menyebut lebih dari separuh pelaut diperkirakan akan berpindah perusahaan dalam tiga tahun ke depan. Sementara itu, armada global berpotensi mengalami kekurangan hampir 90 ribu perwira pada 2026.
Kondisi tersebut dinilai dapat meningkatkan risiko kecelakaan di laut. Sekitar 25% kecelakaan maritim disebut berkaitan dengan kelelahan akibat kekurangan awak kapal dan jam kerja yang panjang.
Tekanan geopolitik juga disebut memperburuk situasi industri pelayaran global.
“Tekanan geopolitik dan ekonomi terus memengaruhi arus perdagangan dan biaya asuransi,” tulis laporan tersebut.
Risiko lain yang menjadi sorotan adalah meningkatnya kasus kebakaran kapal kontainer. Pada 2023, jumlah insiden kebakaran kapal kontainer tercatat meningkat menjadi 40 kasus dari 26 kasus pada 2020.
Sekitar seperempat insiden serius tersebut dikaitkan dengan kesalahan deklarasi barang. Bahkan, laporan itu memperkirakan terdapat sekitar 18 ribu kontainer di laut setiap harinya yang berpotensi membawa muatan yang tidak dideklarasikan dengan benar.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: