Kredit Foto: Istimewa
Pengembangan kawasan Toba Caldera terus menunjukkan progres di tengah sorotan masyarakat terkait lambatnya realisasi investasi dan belum meratanya dampak ekonomi bagi warga sekitar. Sejumlah kepala desa di Kecamatan Ajibata menilai pengembangan kawasan tersebut belum memberi manfaat ekonomi signifikan bagi masyarakat setempat
Menanggapi hal itu, Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) menyatakan pengembangan destinasi berskala besar seperti Danau Toba membutuhkan proses bertahap dan kesiapan yang menyeluruh, sehingga hasilnya tidak dapat diukur semata dari percepatan investasi jangka pendek.
“Pembangunan destinasi tidak bisa hanya diukur dari percepatan investasi jangka pendek. Infrastruktur, regulasi kerja sama, kesiapan masyarakat, serta positioning destinasi menjadi kunci,” ujar Direktur Pemasaran BPODT Wahyu Dito, Kamis (30/4/2026).
Wahyu mengatakan sejumlah komitmen investasi sebenarnya sudah mulai berjalan, meski sebagian masih berada dalam tahap perencanaan. Beberapa investor yang telah terlibat antara lain Labersa Group, Agung Concern Group, Tobanta Nauli Indah, Dunia Outbond, dan NIMO Group.
Selain investasi utama, pertumbuhan juga mulai terlihat pada sektor pendukung seperti amenitas, penginapan, dan ekosistem pariwisata lokal yang berkembang secara bertahap.
Namun demikian, Wahyu mengakui masih terdapat hambatan dalam menarik investor, salah satunya terkait keterbatasan jangka waktu kerja sama investasi.
“Salah satu kendala utama di lapangan adalah terbatasnya jangka waktu kerja sama investasi yang saat ini hanya Bangun Guna Serah 30 tahun. Hal ini dinilai menjadi tantangan dalam menarik investor,” ungkapnya.
Plt. Direktur Utama BPODT Arditama Nusantara Putra mengatakan pihaknya telah mengusulkan revisi regulasi yang dinilai menjadi hambatan tersebut. Menurut dia, kajian akademis untuk penyempurnaan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 202 Tahun 2022 telah diserahkan kepada Menteri Keuangan pada 3 Desember 2025 dan telah mendapat respons positif.
“Saat ini proses revisi sedang berjalan, dengan harapan jangka waktu kerja sama investasi dapat diperpanjang hingga 80 tahun,” sebut Arditama.
Di sisi lain, BPODT mencatat tren kunjungan wisatawan ke kawasan Danau Toba, termasuk Toba Caldera Resort, terus meningkat meski dampak ekonominya dinilai belum merata.
Eksposur kawasan juga terdongkrak melalui berbagai agenda internasional seperti Trail of the Kings by UTMB dan F1 Powerboat Lake Toba. Kedua ajang tersebut dinilai efektif menarik perhatian wisatawan sekaligus meningkatkan sorotan media global terhadap Danau Toba.
BPODT terus mendorong peningkatan aksesibilitas kawasan, di antaranya melalui penambahan rute penerbangan ke Bandara Sisingamangaraja XII serta digitalisasi layanan penyeberangan di kawasan Danau Toba.
Dari sisi promosi, BPODT memperkuat pendekatan kreatif melalui kerja sama produksi film bertema budaya dan pariwisata Danau Toba. Tiga film yang telah diproduksi yakni Harta Tahta Boru ni Raja, Antara Mama Cinta dan Sorga, dan Wasiat Warisan. Film terakhir bahkan sempat menempati posisi teratas dalam daftar Top 10 Movies in Indonesia di Netflix pada hari pertama penayangannya.
Dalam penguatan sumber daya manusia, BPODT juga bekerja sama dengan pakar pendidikan dari Sumatera Utara untuk menyusun materi muatan lokal kepariwisataan berbasis Geopark. Program tersebut telah diserahkan kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara pada Juli 2025.
“Program tersebut diharapkan mampu meningkatkan literasi pariwisata dan budaya bagi masyarakat, khususnya generasi muda di kawasan Danau Toba. Dukungan juga datang dari lembaga komunitas Batak Center dan berbagai pihak untuk mendorong implementasinya di sekolah-sekolah, mulai dari tingkat TK hingga SMA,” pungkasnya.
Di tempat terpisah, Direktur Utama BPODT periode 2021–2026 Jimmy Panjaitan menegaskan pihaknya juga terus mendorong keterlibatan masyarakat lokal melalui prioritas perekrutan tenaga kerja dari sekitar kawasan Toba Caldera Resort.
Baca Juga: Sipinsur di Danau Toba, Menpar Bocorkan Rahasia Geologi Dunia
“Kita tahu, di BPODT masih didominasi oleh tenaga kerja lokal, di luar PNS dan PPPK yang melalui seleksi pusat, setidaknya sekitar 90 persen merekrut penduduk sekitar Kaldera, dan akan bertambah seiring berkembangnya Toba Caldera Resort ini,” ujar Jimmy.
Menurut Jimmy, BPODT terbuka terhadap aspirasi masyarakat dan memandang masukan tersebut sebagai bagian dari kontrol publik yang konstruktif dalam proses pembangunan.
Dengan berbagai dinamika yang ada, pengembangan kawasan Danau Toba dinilai masih berada dalam fase transisi. Fondasi pembangunan mulai terbentuk dan pertumbuhan mulai terlihat di sejumlah aspek, meski ekspektasi publik terhadap percepatan hasil pembangunan juga terus meningkat.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: