Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Konflik Akan Panjang, Pakar Sebut Amerika Serikat Keliru Baca Kondisi Iran

Konflik Akan Panjang, Pakar Sebut Amerika Serikat Keliru Baca Kondisi Iran Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Damainya Iran dan Amerika Serikat diproyeksi akan masih lama mengingat tuntutan keduanya yang saling berlawanan hingga terlalu jauh dari kata sepakat. Hal ini membuat ketidakpastian meningkat dari Timur Tengah.

Pengamat dari Doha Institute for Graduate Studies, Mohamad Elmasry menyebut kondisi negosiasi saat ini stagnan dalam beberapa pekan terakhir. Ia menyebut peluang tercapainya kesepakatan sangatlah kecil jika melihat tuntutan dari Iran dan Amerika Serikat.

Baca Juga: Harga Minyak Naik, Iran Sebut Blokade Amerika Serikat Gagal

“Kita masih berada dalam pola yang sama, tidak banyak perubahan dalam beberapa minggu terakhir,” ujarnya.

Menurut Elmasry, kedua pihak memiliki daftar tuntutan yang sangat berbeda. Iran mengajukan sekitar sepuluh tuntutan. Sementara Amerika Serikat memiliki sekitar lima belas tuntutan.

“Jika dibandingkan, terlihat jelas kedua pihak berada sangat jauh satu sama lain,” katanya.

Elmasry, dengan perbedaan tersebut, menilai kebuntuan saat ini bukan hal yang mengejutkan. Ia juga menyoroti perbedaan persepsi hingga strategi yang dimiliki oleh Washington dan Teheran.

Amerika Serikat menurutnya menilai musuhnya berada di ambang krisis akibat tekanan ekonomi, terutama terkait kapasitas penyimpanan minyak. Menurut Elmasry, asumsi tersebut tidak sepenuhnya akurat mengingat negara tersebut masih bisa menjual minyaknya ke China.

Iran menurutnya telah memiliki sejumlah strategi alternatif yang dapat memperpanjang ketahanan ekonominya. Meski demikian, nampaknya hal tersebut tidak dipercaya atau dianggap remeh oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Washington percaya bahwa dengan meningkatkan tekanan, musuhnya akan segera memberikan konsesi dalam waktu dekat. Iran sendiri ngotot bahwa tekanan yang diberikan terhadapnya hanya akan memperburuk ekonomi dunia, dan bukan pihak dari Teheran.

Perbedaan persepsi ini memperumit proses diplomasi dan memperpanjang kebuntuan. Deadlock antara kedua negara terus memengaruhi stabilitas geopolitik dan pasar energi global.

Sebelumnya, Amerika Serikat memberikan sinyal penolakan atas proposal dari Iran. Washington tidak puas dengan proposal itu karena hal tersebut tidak menyentuh isu utama terkait program nuklir dari Teheran.

Proposal Iran sendiri dilaporkan mencakup penundaan pembahasan program nuklir hingga perang berakhir dan isu pelayaran di Selat Homruz. Namun, pendekatan ini bertentangan dengan posisi isu nuklir dari Washington.

Tahap awal proposal tersebut mencakup penghentian perang serta penyelesaian blokade laut dan pembukaan kembali wilayah dari Selat Hormuz. Selat ini merupakan jalur vital bagi distribusi energi global yang saat ini terganggu akibat konflik.

Iran, setelah isu keamanan dan pelayaran diselesaikan, ingin pembahasan berlanjut ke program nuklir, termasuk tuntutan pengakuan hak memperkaya uranium untuk tujuan damai.

Baca Juga: Trump: Iran Cuma Perlu Menyerah ke Amerika Serikat

Namun, Washington menegaskan bahwa isu nuklir harus menjadi bagian dari negosiasi sejak awal. Ia ingin hal tersebut menjadi syarat utama dalam setiap kesepakatan dari Iran dan Amerika Serikat.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar