Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Harga Minyak Naik, Iran Sebut Blokade Amerika Serikat Gagal

Harga Minyak Naik, Iran Sebut Blokade Amerika Serikat Gagal Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Iran buka suara terkait dengan blokade laut yang dilakukan oleh Amerika Serikat. Menurutnya, blokade tersebut tidak akan efektif mengingat pihaknya dapat terus memompa minyak di Teheran.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menilai langkah blokade untuk menghentikan ekspor minyak negaranya belum memberikan dampak signifikan terhadap kapasitas penyimpanan minyak negara tersebut. 

Baca Juga: Ogah Terbang ke Pakistan, Trump: Negosiasi Amerika Serikat-Iran Kini via Telepon

“Tiga hari berjalan, tidak ada sumur yang meledak. Kami bahkan bisa memperpanjangnya hingga satu bulan dan menyiarkannya langsung,” ujarnya.

Ia juga mengkritik kebijakan yang sebelumnya menyebut blokade akan memberikan tekanan besar terhadap Iran. Ghalibaf menyebut kebijakan tersebut didasarkan pada persepsi yang keliru.

Menurut Ghalibaf, dampak nyata dari kebijakan tersebut justru terlihat pada lonjakan harga minyak global. Ia menyebut harga telah terdorong hingga di atas US$120 per barel dan berpotensi naik lebih tinggi.

Ghalibaf menilai strategi blokade justru merugikan pasar global dan memperburuk ketidakstabilan energi. Pernyataan ini mencerminkan meningkatnya tensi dalam perang ekonomi antara Iran dan Amerika Serikat.

Sebelumnya, Amerika Serikat melakukan pertemuan dengan sejumlah petinggi perusahaan energi terkait dengan gejolak harga minyak akibat perangnya dengan Iran. Hal ini terjadi setelah adanya pengumuman negara itu akan menekan pasokan minyak dari Teheran.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump baru-baru ini dilaporkan menggelar pertemuan tersebut untuk membahas sejumlah aspek penting, mulai dari produksi minyak, kontrak berjangka (oil futures), pengiriman (shipping) hingga gas alam.

“Mereka membahas langkah yang telah diambil presiden untuk menstabilkan pasar minyak global serta opsi jika blokade perlu dilanjutkan selama berbulan-bulan, sambil meminimalkan dampaknya bagi konsumen dari Amerika Serikat,” kata Gedung Putih.

Pertemuan itu sendiri dihadiri oleh sejumlah pihak yang memiliki posisi penting, misalnya Bos Chevron, Mike Wirth. Adapun pertemuan tersebut juga dihadiri sejumlah pejabat tinggi, antara lain Scott Bessent, Susie Wiles, Steve Witkoff hingga Jared Kushner.

Gedung Putih sendiri mengatakan bahwa pihaknya akan terus melakukan blokade terhadap Iran. Ia akan menjadi alat utama tekanan terhadap Teheran. Washington percaya langkah tersebut memberi leverage maksimal bagi Amerika Serikat.

Baca Juga: IAEA: Uranium Iran Kemungkinan Masih Tersimpan di Isfahan

Kenaikan harga minyak sendiri berdampak langsung pada inflasi global dan biaya energi di berbagai negara. Blokade menjadi bagian dari strategi tekanan maksimal Washington ke Teheran. Namun hal tersebut membuat pasar global dibayangi ketidakpastian akibat konflik yang belum mereda di Timur Tengah.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar