Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Investasi Smelter Tembus US$7,8 Miliar, PNBP Minerba Melampaui Rp56 Triliun

Investasi Smelter Tembus US$7,8 Miliar, PNBP Minerba Melampaui Rp56 Triliun Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan, investasi pada sektor smelter terintegrasi telah mencapai US$7,8 miliar, dibarengi dengan performa setoran Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang melampaui Rp56 triliun hingga pertengahan Mei 2026.

Direktur Jenderal Minerba KESDM, Tri Winarno, menjelaskan akselerasi pembangunan infrastruktur pengolahan mineral terus menunjukkan tren positif. Saat ini, ekosistem industri pemurnian mineral di Indonesia diperkuat oleh belasan smelter terintegrasi yang tersebar di berbagai komoditas strategis.

"Perlu kami sampaikan di sini bahwa sampai saat ini terdapat 14 smelter yang terintegrasi yang merupakan bagian dari pengembangan hilirisasi mineral yang ada di Indonesia dengan rincian ada 6 smelter untuk nikel, 6 smelter untuk bauksit, 1 smelter tembaga, dan 1 smelter besi," kata Tri dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta, Selasa (19/5/2026).

Tri merinci, dari total 14 proyek smelter tersebut, sebanyak lima unit telah terbangun sepenuhnya (commissioning), sementara sembilan unit lainnya masih dalam proses penyelesaian. Kehadiran smelter ini menjadi tulang punggung pemurnian konsentrat di dalam negeri, termasuk proyek strategis seperti PT Aneka Tambang Tbk (Pomalaa), PT Vale Indonesia Tbk (Sulawesi), PT Wanatiara Persada, PT Weda Bay, hingga PT Freeport Indonesia di JIIPE Gresik.

Kapasitas Terpasang Berdasarkan data operasional, Tri memaparkan bahwa basis industri pengolahan mineral nasional mulai terbentuk secara masif. Smelter nikel mencatatkan total kapasitas input sebesar 24,9 juta ton per tahun dengan kapasitas output mencapai 924.780 ton per tahun untuk produk antara.

Sementara itu, smelter tembaga memiliki kapasitas input 2 juta ton per tahun dengan output 460.000 ton katoda tembaga per tahun. Di sektor besi, kapasitas input tercatat sebesar 4 juta ton per tahun dengan output 1,7 juta ton per tahun. Adapun untuk komoditas bauksit, kapasitas input mencapai 19,6 juta ton dengan output berupa alumina sebesar 7,4 juta ton per tahun.

"Angka tersebut menunjukkan bahwa basis industri pengolahan mineral mulai terbentuk," tegas Tri.

Kontribusi Fiskal Performa operasional yang solid turut memberikan dampak instan terhadap penerimaan negara. Tri mengungkapkan, realisasi PNBP dari sektor minerba terus menunjukkan kurva peningkatan yang signifikan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

"Dari sisi PNBP realisasi Ditjen Minerba pada saat ini dari periode Januari sampai April mencapai 48,95 triliun sebetulnya kalau ditarik sampai 15 Mei mencapai 56 triliun dan secara tahunan terdapat kenaikan 6,21%," paparnya.

Tri menambahkan, target PNBP tahun 2026 secara keseluruhan diproyeksikan bakal meningkat melampaui realisasi tahun 2025.

Baca Juga: Penuhi Kebutuhan Smelter, Bahlil Jajaki Impor Nikel dari Filipina

Baca Juga: Pecah Telur! Hilirisasi Logam Tanah Jarang Groundbreaking 20 Mei

Kendati demikian, Tri memberikan catatan strategis bahwa masifnya kapasitas industri pemurnian ini harus dibarengi dengan prinsip tata kelola yang hati-hati (prudence). Hal ini penting untuk menjaga keberlanjutan pasokan bahan baku serta kepastian investasi jangka panjang.

"Hilirisasi harus dikelola secara hati-hati. Kapasitas yang besar tentunya membutuhkan pasokan bahan baku yang besar dan tertib, tata kelola K3 yang baik, kepastian investasi serta keseimbangan antara daya industri, penerimaan negara dan keberlanjutan dari sumber daya," pungkas Tri Winarno.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra