Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Jamu Naik Kelas: Dari Budaya Lokal ke Pasar Dunia

Jamu Naik Kelas: Dari Budaya Lokal ke Pasar Dunia Kredit Foto: Dok. Kemenekraf
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) menegaskan bahwa jamu bukan lagi sekadar warisan tradisi, melainkan produk ekonomi kreatif yang siap menembus pasar global lewat dukungan digitalisasi, riset, dan inovasi.

Hal tersebut disampaikan Menteri Ekraf, Teuku Riefky Harsya, dalam pertemuan bersama Dewan Jamu Indonesia (DJI) di Kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, Rabu (20/5).

Pertemuan itu bertujuan memperkuat ekosistem jamu sebagai produk kesehatan sekaligus warisan budaya bernilai ekonomi tinggi.

"Jamu bukan sekadar warisan tradisi , tapi produk ekonomi kreatif yang punya potensi besar di pasar dunia. Lewat dukungan ekosistem digital, riset, dan ilmu pengetahuan, kita harus ubah kekayaan budaya ini menjadi produk modern yang diminati global," ujarnya, dikutip dari siaran pers Kemenekraf, Jumat (22/5).

Dalam rangka mewujudkan hal tersebut, Kementerian Ekraf mendorong penguatan branding, hak kekayaan intelektual (intellectual property/IP), hingga perluasan akses melalui berbagai platform digital. Selain itu, Kementerian Ekraf juga berencana membantu proses branding hingga kurasi yang ketat agar industri jamu mampu tampil di kancah internasional.

"Kreativitas budaya kita sudah luar biasa sejak dulu, namun tantangan terbesarnya adalah komersialisasi dan monetize. Melalui ekosistem digital, kita bantu branding dan kurasi produk yang unik agar siap menangkap peluang global tanpa harus panik dalam memenuhi kapasitas produksinya," tambah Menteri Ekraf.

DJI sendiri merupakan wadah nasional yang menghimpun pelaku usaha, peracik jamu, akademisi, peneliti, komunitas, serta pemangku kepentingan lainnya dalam rangka mengembangkan dan melestarikan jamu sebagai warisan budaya sekaligus produk kesehatan Indonesia.

Audiensi ini juga membahas penguatan kolaborasi dan pematangan konsep penyelenggaraan The 2nd Jamu International Conference & Expo (JICE) 2026 yang dijadwalkan berlangsung Oktober 2026, bertepatan Hari Ekonomi Kreatif Nasional pada 24 Oktober.

Nantinya, 2nd JICE 2026 didesain sebagai platform terpadu berskala internasional yang menggabungkan konferensi ilmiah, pameran industri, dan promosi budaya. Mereka juga bakal mengundang Menteri Ekraf sebagai narasumber dalam podcast pre-event di Candi Borobudur pada 31 Mei 2026.

Baca Juga: Ekspor RI ke Tiongkok Raup Potensi Rp1,55 Triliun

Baca Juga: Rugi Rp15.400 Triliun, Siapa Pelaku Mafia Ekspor SDA?

"Berangkat dari kesuksesan gelaran JICE yang pertama, kami berkomitmen untuk terus merajut seluruh pemangku kepentingan guna mengembangkan, melestarikan, dan menduniakan jamu. Kami sangat mengapresiasi dukungan luar biasa dari Kementerian Ekraf yang bersedia berjalan beriringan bersama kami untuk menyukseskan agenda besar ini ,” ungkap Ketua Umum DJI, Daniel Tjen.

Gelaran 2nd JICE 2026 mengusung tema “Jamu as a Creative Wellness and Health Industry: Driving Sustainable Well-Being through Cultural Innovation, Green Economy, and Global Partnerships”. Acara puncak direncanakan berlangsung di Royal Ambarrukmo Yogyakarta serta kawasan Candi Borobudur demi menyatukan ekosistem pariwisata heritage dengan industri kreatif jamu.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya