Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Industri Jamu Nasional Diperkuat Jadi Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya

Industri Jamu Nasional Diperkuat Jadi Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Jamu tidak hanya dipandang sebagai warisan budaya dan ramuan kesehatan tradisional, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai penggerak ekonomi kreatif dan industri herbal nasional. Potensi tersebut menjadi salah satu sorotan dalam penyelenggaraan acaraki Jamu Festival 2026 yang mengusung tema “The Rise of Jamu Culture”.

Festival yang berlangsung pada 6-7 Juni 2026 di Hutan Kota GBK, Jakarta, itu hadir sebagai upaya untuk mengajak masyarakat kembali mengenal, menikmati, dan membanggakan jamu sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Selain menonjolkan aspek kesehatan dan budaya, festival ini juga mendorong pengembangan ekonomi berbasis jamu melalui kolaborasi berbagai pemangku kepentingan.

Indonesia dinilai memiliki modal besar untuk mengembangkan industri herbal dan jamu. Kekayaan keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia menjadi sumber bahan baku sekaligus pengetahuan pengobatan tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun. Kemampuan masyarakat dalam mengolah berbagai tanaman herbal menjadi ramuan kesehatan juga melahirkan beragam tradisi, mulai dari budaya jamu gendong hingga berbagai resep tradisional yang terus bertahan hingga kini.

Pengakuan UNESCO terhadap Budaya Sehat Jamu sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia pada 6 Desember 2023 semakin memperkuat posisi jamu sebagai aset budaya sekaligus sumber nilai ekonomi yang dapat terus dikembangkan.

Melalui kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk BPOM RI, GP Jamu, Kementerian Ekonomi Kreatif, komunitas, pelaku UMKM, serta pegiat budaya, festival ini berupaya memperluas pemahaman masyarakat terhadap jamu dengan pendekatan yang lebih dekat dan relevan dengan kehidupan modern.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Irene Umar, menilai jamu memiliki posisi unik dalam ekosistem ekonomi kreatif karena tidak hanya hadir sebagai produk kesehatan, tetapi juga merepresentasikan identitas budaya Indonesia yang telah hidup lintas generasi.

Menurut Irene, jamu merupakan contoh bagaimana identitas budaya dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi kreatif. Nilai budaya yang melekat pada jamu menjadi fondasi lahirnya berbagai produk, pengalaman, dan inovasi kreatif yang memiliki karakter khas Indonesia.

Pendekatan tersebut diwujudkan melalui berbagai aktivitas kreatif yang ditampilkan dalam festival, seperti pertunjukan seni, musik, kuliner, permainan tradisional, serta pengalaman budaya yang menyasar generasi muda. Langkah ini diharapkan mampu menggeser persepsi jamu dari sekadar produk tradisional menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat masa kini.

Baca Juga: Produk Unit Link Laris Manis di Tengah Penurunan Premi Asuransi Tradisional

Di sisi lain, BPOM RI dan GP Jamu berperan dalam memperkuat kualitas, keamanan, edukasi, inovasi produk, serta pengembangan industri jamu nasional. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap jamu sekaligus mendorong pertumbuhan industri herbal Indonesia agar semakin mandiri dan berdaya saing.

Perkembangan industri jamu juga menunjukkan kemampuan adaptasi terhadap kebutuhan pasar. Jika sebelumnya jamu identik dengan jamu gendong, kini produk jamu hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari minuman siap minum, botol, sachet, kapsul, café jamu, hingga produk perawatan tubuh berbasis herbal.

Ketua Umum GP Jamu, Jony Yuwono, mengatakan pelestarian jamu membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. Ia berharap semakin banyak pihak yang terlibat dalam upaya pengembangan warisan budaya tersebut, termasuk melalui inovasi produk yang relevan dengan kebutuhan pasar.

Menurut Jony, semangat para pelaku jamu tradisional perlu menjadi inspirasi bagi generasi saat ini untuk terus berinovasi dan memperkuat daya saing UMKM jamu agar dapat tumbuh secara berkelanjutan.

Melalui acaraki Jamu Festival 2026, jamu diharapkan tidak hanya terus lestari sebagai warisan budaya, tetapi juga berkembang menjadi penggerak ekonomi nasional yang mampu membuka peluang usaha, memperkuat UMKM, dan meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait: