Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Ditendang Hingga Diperkosa, Israel Disebut Lakukan Pelecehan Seksual ke Aktivis Flotilla Gaza

Ditendang Hingga Diperkosa, Israel Disebut Lakukan Pelecehan Seksual ke Aktivis Flotilla Gaza Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Sejumlah aktivis internasional yang ditahan Israel usai mengikuti misi bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza melaporkan dugaan kekerasan fisik hingga pelecehan seksual selama masa penahanan.

Penyelenggara Global Sumud Flotilla menyebut sedikitnya 15 aktivis mengalami serangan seksual, termasuk dugaan pemerkosaan, saat berada dalam tahanan Israel.

Baca Juga: Gelombang Protes Warga: 'Saya Kecewa Presiden kok Mau Dikendalikan oleh Israel'

“Setidaknya 15 kasus penyerangan seksual, termasuk pemerkosaan. Ditembak dengan peluru karet dari jarak dekat. Puluhan orang mengalami patah tulang,” tulis penyelenggara Global Sumud Flotilla melalui akun Telegram resmi mereka.

Pernyataan itu disampaikan setelah sejumlah aktivis dibebaskan dan menjalani perawatan medis di rumah sakit akibat luka yang mereka alami selama penahanan.

Penyelenggara juga menuding perlakuan terhadap para aktivis hanya sebagian kecil dari tindakan yang disebut rutin dialami warga Palestina di bawah penahanan Israel.

“Meskipun perhatian dunia tertuju pada penderitaan para peserta kami, kami ingin menekankan bahwa ini hanyalah sekilas gambaran dari kebrutalan yang dilakukan Israel setiap hari terhadap sandera Palestina,” lanjut pernyataan tersebut.

Salah satu aktivis asal Italia, Luca Poggi, mengaku dirinya bersama peserta lain mengalami perlakuan kasar setelah ditangkap.

“Kami dilucuti pakaiannya, dilempar ke tanah, ditendang,” kata Poggi.

“Banyak dari kami disetrum dengan alat kejut listrik, beberapa mengalami pelecehan seksual, dan beberapa dilarang mengakses pengacara,” tambahnya.

Kasus ini bermula ketika angkatan laut Israel mencegat sekitar 50 kapal bantuan internasional yang membawa bantuan kemanusiaan menuju Gaza pada Selasa (19/5/2026). Sekitar 430 aktivis dari berbagai negara kemudian ditahan.

Sejumlah negara Eropa kini ikut menyoroti kasus tersebut. Pemerintah Jerman menyatakan beberapa warga negaranya mengalami luka fisik dan dugaan pelanggaran serius selama penahanan.

“Perlakuan manusiawi terhadap warga negara Jerman adalah prioritas mutlak,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Jerman.

“Kami tentu mengharapkan penjelasan lengkap, karena beberapa tuduhan yang telah diajukan cukup serius,” tambahnya.

Sementara itu, Sabrina Charik yang membantu pemulangan 37 warga Perancis mengatakan lima aktivis Perancis harus dirawat di rumah sakit di Turkiye akibat cedera serius, termasuk patah tulang rusuk dan cedera tulang belakang.

Ia juga menyebut sejumlah korban telah memberikan laporan rinci terkait dugaan kekerasan seksual selama penahanan.

Dalam unggahan Instagram yang telah diverifikasi Reuters, seorang aktivis asal Perancis bernama Adrien Jouan memperlihatkan memar di bagian punggung dan lengan bawahnya.

Israel membantah seluruh tuduhan tersebut. Layanan penjara Israel menyatakan para tahanan diperlakukan sesuai hukum dan hak dasar mereka tetap dihormati.

“Tuduhan yang dilayangkan adalah salah dan sama sekali tanpa dasar faktual,” kata juru bicara layanan penjara Israel.

“Semua tahanan dan narapidana ditahan sesuai dengan hukum, dengan menghormati sepenuhnya hak-hak dasar mereka dan di bawah pengawasan staf penjara yang profesional dan terlatih,” tambahnya.

Baca Juga: 30 Menit Jadi Penentu, Israel dan Amerika Bahas Masa Depan Perang Iran

Kasus ini kini memicu tekanan internasional terhadap pemerintah Israel. Pemerintah Italia menyebut negara-negara Uni Eropa sedang membahas kemungkinan pemberian sanksi terhadap Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir setelah beredar video dirinya mengejek para aktivis di dalam penjara.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar