Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

220 Bendungan Jadi Fokus, Prabowo Minta BMKG Antisipasi El Nino

220 Bendungan Jadi Fokus, Prabowo Minta BMKG Antisipasi El Nino Kredit Foto: YouTube Sekretariat Presiden
Warta Ekonomi, Jakarta -

Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memperkuat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di seluruh wilayah Indonesia. 

Langkah ini diambil sebagai antisipasi menghadapi fenomena El Nino yang diprediksi bersamaan dengan musim kemarau tahun ini.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fatani, menjelaskan bahwa arahan Presiden bertujuan agar pemerintah lebih siap memitigasi potensi kekeringan sekaligus menjaga ketahanan pangan nasional. 

“Bapak Presiden itu memberikan instruksi, memberikan direktif kepada BMKG agar memperkuat operasi modifikasi cuaca di Indonesia agar kita dapat mengantisipasi kemarau yang bersamaan dengan El Nino ini dengan sebaik-baiknya,” kata Faisal, dikutip Minggu (24/5).

Operasi modifikasi cuaca ini akan dilaksanakan secara bertahap ke berbagai daerah guna memastikan ketersediaan cadangan air di bendungan, embung, dan area tangkapan air tetap berada pada level aman.

“Jadi OMC (Operasi Modifikasi Cuaca) ini akan bertahap di seluruh Indonesia,” jelasnya.

Berdasarkan analisis BMKG, El Nino diperkirakan aktif mulai Juni 2026 hingga Maret–Mei 2027 dengan intensitas moderat hingga kuat. Dampaknya diprediksi mencapai puncak pada Agustus–September, berpotensi memicu kemarau lebih panjang dan kering dibandingkan rata-rata 30 tahun terakhir.

Dampak dari kombinasi musim kemarau dan El Nino ini sangat diwaspadai, terutama saat memasuki puncaknya pada bulan Agustus dan September, karena berpotensi memicu kondisi cuaca yang jauh lebih kering dan masa kemarau yang lebih panjang dibandingkan dengan rekam medis rata-rata dalam 30 tahun terakhir.

Pemerintah memprioritaskan pasokan air untuk mendukung target swasembada pangan. “Nah kemudian nanti ketika musim kemarau terjadi tentunya kita harus siap apabila ingin swasembada pangan maka kita punya 220 bendungan di Indonesia kurang lebih, itu apakah sanggup untuk dapat mengairi irigasi, untuk air minum, untuk pembangkit listrik,” kata Faisal.

Sebagai contoh keberhasilan program ini, BMKG sebelumnya telah sukses menjalankan operasi modifikasi cuaca skala besar di kawasan Danau Toba bersama dengan Perum Jasa Tirta I dan PT Inalum. 

Operasi tersebut berhasil menjaga tinggi muka air danau agar tetap normal, sehingga pembangkit listrik tenaga air (PLTA), irigasi, serta pemenuhan air bersih di wilayah tersebut tidak terganggu. 

“Jadi kita melakukan operasi modifikasi cuaca untuk menjamin bahwa permukaan airnya tetap dalam kondisi normal sehingga pembangkit listrik bisa tetap beroperasi, kemudian untuk air minum, untuk irigasi dan sebagainya,” kata Faisal.

Faisal juga menekankan bahwa biaya investasi yang dikeluarkan untuk menggelar operasi modifikasi cuaca ini relatif jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan nilai manfaat ekonomi serta perlindungan sektor energi yang dihasilkannya.

Baca Juga: Prabowo: Kita Lakukan Apapun untuk Hentikan Kebocoran, Kekayaan Negara Harus untuk Rakyat

Baca Juga: Ancaman 'Godzilla El Nino', Kementan Audit Karhutla Perusahaan Sawit

Berdasarkan pemetaan wilayah, BMKG mengidentifikasi bahwa daerah-daerah yang berada di bawah garis khatulistiwa akan menjadi wilayah yang paling terdampak oleh fenomena El Nino ini.

Wilayah-wilayah tersebut meliputi Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebaliknya, untuk wilayah Indonesia bagian utara seperti Sumatra bagian utara dan Kalimantan bagian utara, diprediksi tidak akan menghadapi dampak yang signifikan akibat fenomena cuaca tersebut.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya