- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Dirut PHE Beberkan Temuan 1 Miliar Barel Minyak di Riau: Ini Game Changer!
Kredit Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay
PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Subholding Upstream Pertamina, mengungkap temuan sumber daya minyak non-konvensional (MNK) di wilayah Riau dengan estimasi potensi mencapai 2C sebesar 1 miliar barel setara minyak (BBOE).
Direktur Utama PHE, Awang Lazuardi, menyampaikan temuan tersebut diperoleh dari hasil eksplorasi minyak non-konvensional, termasuk setelah pengeboran dua sumur MNK di Blok Rokan.
“Dan bisa kami sampaikan di sini, alhamdulillah kita juga berhasil melakukan eksplorasi di minyak non-konvensional di wilayah Riau dengan temuan 2 billion oil equivalent,” ujar Awang dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR RI, Senin (25/5/2026).
Langkah pengembangan MNK merupakan bagian dari strategi PHE dalam mengoptimalkan potensi lapangan matang (mature field) sekaligus mencari sumber cadangan baru di tengah tekanan penurunan produksi alamiah (natural decline).
Berdasarkan data teknis, industri hulu migas menghadapi rata-rata penurunan produksi alamiah sebesar 24% untuk minyak dan 21% untuk gas setiap tahun.
“Tentunya ini akan menjadi nafas kita ke depan, ini akan menjadi game changer kita apabila kita melakukan eksplorasi di sini dan memberikan hasil yang cukup signifikan,” kata Awang.
Untuk kinerja awal 2026, PHE mencatat sejumlah faktor yang memengaruhi produksi, antara lain gangguan suplai gas di Blok Rokan akibat kebocoran pipa TGI yang berlangsung lebih dari 20 hari dan berdampak pada produksi minyak.
Selain itu, keterbatasan fasilitas di wilayah kerja yang bermitra dengan ExxonMobil di Banyu Urip menjadi kendala peningkatan produksi gas pada kuartal I-2026.
Di sisi internasional, produksi West Qurna di Irak sempat terdampak situasi geopolitik dengan penghentian sementara yang menyebabkan penurunan produksi sekitar 100.000 barel per hari. Operasi saat ini telah kembali berjalan, namun belum sepenuhnya normal.
Dengan kondisi tersebut, produksi minyak dan gas bumi (migas) periode Januari–April 2026 tercatat sebesar 945 ribu barel setara minyak per hari (BOEPD), dengan produksi minyak 475 ribu barel per hari dan gas 2.722 MMSCFD
Baca Juga: PHE Akui Sempat Kehilangan Produksi Minyak 100 Ribu BOPD di Irak Imbas Konflik
Baca Juga: Produksi Migas PHE Capai 945 Ribu BOEPD di Awal 2026
Produksi minyak terdiri dari 367 ribu barel per hari domestik dan 109 ribu barel per hari internasional, sementara produksi gas terdiri dari 2.385 MMSCFD domestik dan 337 MMSCFD internasional.
“Jika diekuivalenkan, produksi mencapai 945.000 barrel oil equivalent per day, dengan target 1.030.000 barrel oil equivalent per day melalui program filling the gap,” ujar Awang dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Senin (25/5/2026)
Menilik target produksi 2026, yakni minyak sebesar 560 MBOPD dan gas sebesar 2.725 MMSCFD, PHE terus menjalankan program filling the gap dengan fokus pada eksplorasi, pengembangan, dan optimasi produksi.
Program tersebut mencakup survei seismik 2D sepanjang 904 km, 3D seluas 1.660 km², pemboran eksplorasi 16 sumur, pengembangan sekitar 800 sumur, lebih dari 1.200 kegiatan workover, serta lebih dari 23.000 well intervention.
Dari sisi pengembangan, PHE melanjutkan proyek greenfield di Akasia Prima, Manpatu, OOX, dan Sisinubi, serta optimalisasi lapangan mature seperti Benuang, ONWJ, Abab, Tanjung, Miring Barat, Lembak, Kemang, Tandus, dan Salawati.
Pada aspek teknologi, PHE mengembangkan Enhanced Oil Recovery (EOR) melalui injeksi kimia di Minas (Stage A), steamflood di North Duri Development, serta pilot polimer di OSES. Aktivitas lain juga mencakup put on production dan multistage fracturing di Rokan.
Selain itu, PHE mengembangkan peluang Carbon Capture and Storage (CCS) sebagai bagian dari strategi dual growth menuju energi rendah karbon.
Perseroan menegaskan pentingnya dukungan pada aspek enabler, termasuk perizinan, pembebasan lahan, keandalan listrik, dan pasokan gas untuk mempercepat eksekusi proyek hulu migas.
“Dukungan pada aspek enabler seperti perizinan, pembebasan lahan, keandalan listrik, dan suplai gas sangat penting untuk mempercepat eksekusi proyek. Semakin cepat proyek berjalan, semakin besar manfaat bagi seluruh pihak,” tutupnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: