Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Begini Cara 10 Perusahaan Sawit 'Kibuli' Purbaya, Manipulasi Ekspor hingga Rp1,48 Triliun

Begini Cara 10 Perusahaan Sawit 'Kibuli' Purbaya, Manipulasi Ekspor hingga Rp1,48 Triliun Kredit Foto: Cita Auliana
Warta Ekonomi, Jakarta -

Dugaan praktik manipulasi ekspor mengguncang industri kelapa sawit nasional. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa sepuluh perusahaan eksportir minyak sawit mentah (CPO) terbesar di Indonesia diduga melakukan praktik manipulasi nilai ekspor atau underinvoicing.

Purbaya mengatakan temuan tersebut berasal dari sampel acak yang diambil pemerintah. Hasilnya, seluruh perusahaan yang diperiksa ditemukan melakukan pola yang sama.

"Saya ambil 10 terbesar, semuanya melakukan hal itu. Jadi boleh dipastikan semuanya melakukan hal itu," ujar Purbaya di kompleks DPR RI, Senayan, Jakarta, Jumat (22/5/2026).

Praktik tersebut diperkirakan menyebabkan kerugian negara mencapai US$84 juta atau sekitar Rp1,48 triliun dengan asumsi kurs Rp17.700 per dolar AS. Namun, menurut Purbaya, nilai tersebut kemungkinan hanya sebagian kecil dari total kerugian sebenarnya.

"Itu US$84 juta dari sampel yang diambil. Kalau dari semua transaksi, ya pasti lebih besar. Karena itu hanya sedikit saja, tiga kapal. Kalau semuanya, bisa lebih dari US$84 juta," tegasnya.

Purbaya membeberkan modus yang digunakan perusahaan-perusahaan tersebut. Mereka diduga mengekspor CPO ke perusahaan afiliasi di Singapura dengan harga yang lebih rendah dari harga sebenarnya.

Setelah itu, produk yang sama kembali dijual ke negara tujuan dengan harga jauh lebih tinggi. Praktik ini diduga menjadi bagian dari skema transfer pricing.

Salah satu contoh yang diungkap Purbaya, terdapat perusahaan yang hanya melaporkan nilai ekspor sebesar US$2,6 juta. Namun, nilai impor produk yang sama di Amerika Serikat tercatat mencapai US$4,2 juta.

Artinya, terdapat selisih harga hingga 57 persen.

"Saya enggak mau sebut perusahaannya. Dia dari Indonesia kirim harganya US$2,6 juta, impornya di sana US$4,2 juta, jadi 57 persen bedanya," ungkapnya.

Purbaya juga mengungkap temuan lain yang dinilai lebih ekstrem.

"Ada yang lebih gila lagi, satu perusahaan di sini ekspornya US$1,44 juta, di sana US$4 jutaan, berubah harga 200 persen," ujarnya.

Kasus dugaan manipulasi ekspor tersebut telah dilaporkan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto. Purbaya mengaku turut membawa dokumen berisi catatan perusahaan-perusahaan yang diduga melakukan manipulasi harga saat menghadiri agenda makan siang di Istana Kepresidenan Jakarta.

"Ini jaga-jaga saja biar kalau ditanya bisa jawab. Ini ada beberapa catatan perusahaan CPO yang mana yang lakukan manipulasi harga. Jadi kalau ditanya saya akan jawab," katanya di kompleks Istana, Kamis (21/5/2026).

Baca Juga: Purbaya 'Sisipkan' Orang Kemenkeu di DSI untuk Alasan Ini

Saat ini, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) serta Kejaksaan Agung telah mulai menindaklanjuti temuan tersebut.

Purbaya memastikan akan meminta laporan perkembangan penanganan kasus dari kedua lembaga itu.

"Saya akan minta laporan dari mereka minggu depan, seperti apa perkembangannya," ujarnya di kawasan Istana Negara, Jumat (22/5/2026).

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait: