Netanyahu Sebut Konflik Selat Hormuz Buka Peluang Israel Jadi Koridor Energi Dunia
Kredit Foto: Wafiyyah Amalyris K
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memprediksi ketegangan di Selat Hormuz akan membawa perubahan besar bagi peta energi dunia. Situasi konflik tersebut dinilai dapat mempercepat pergeseran global menuju jalur energi alternatif yang menjauhi kawasan Teluk.
Gejolak politik ini dipandang sebagai peluang besar bagi posisi geopolitik Israel di masa depan. Negara tersebut diklaim berpotensi menjadi bagian penting dari koridor transportasi masa depan menuju Laut Mediterania.
Netanyahu menjelaskan bahwa kekuatan global secara historis selalu mengambil langkah mitigasi saat terjadi krisis energi. Negara-negara besar akan mendiversifikasi jalur pasokan untuk mengurangi ketergantungan pada daerah transit yang tidak stabil.
“Hal yang sama akan terjadi di sini juga,” katanya di sebuah seminar di Lembah Yordania pada Kamis (29/5/2026) dilansir Anadolu.
Pemimpin Israel tersebut melihat adanya celah keuntungan strategis yang bisa dimanfaatkan oleh negaranya dalam situasi geopolitik terkini. Pihaknya bersiap mengambil peran dalam rute distribusi alternatif yang sedang berkembang.
“Kita memiliki kesempatan di sini untuk menjadi bagian dari rute menuju Mediterania ini,” tambahnya.
Meski demikian, perdana menteri tersebut memilih untuk tidak membeberkan rencana tersebut secara mendetail kepada publik. Ia sama sekali tidak memberikan rincian tentang proyek atau koridor transportasi yang dimaksudkan dalam pidatonya.
Netanyahu juga memilih merahasiakan identitas negara-negara mitra yang kemungkinan akan terlibat dalam proyek tersebut. Pernyataan diplomatis ini bergulir di tengah meningkatnya kekhawatiran internasional atas keamanan perdagangan maritim dunia.
Komunitas global saat ini sedang mencemaskan stabilitas pasokan energi yang terikat dengan Selat Hormuz. Selat tersebut merupakan jalur air sangat strategis yang dilalui oleh sebagian besar pengiriman minyak global.
Iran tercatat telah menutup Selat Hormuz secara efektif bagi sebagian besar aktivitas pelayaran internasional. Langkah ekstrem tersebut diambil oleh Teheran pascaserangan gabungan yang dilakukan militer AS-Israel pada 28 Februari 2026.
Pihak Washington dan Teheran kemudian sempat menyepakati gencatan senjata selama dua minggu untuk meredakan ketegangan. Kedua belah pihak juga telah mengadakan perundingan diplomatik di Islamabad, Pakistan, pada 11 April 2026.
Sayangnya, perundingan antara pihak AS dan Iran tersebut berakhir buntu tanpa menghasilkan kesepakatan berarti. Kegagalan dipicu oleh penolakan Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan menghentikan program uranium mereka.
Presiden AS Donald Trump merespons kebuntuan tersebut dengan mengeluarkan instruksi militer yang sangat tegas. Ia memerintahkan pasukannya untuk memblokade Selat Hormuz mulai Senin (13/4/2026).
Perkembangan baru terjadi pada Jumat (17/4/2026) saat Israel dan Lebanon menyepakati gencatan senjata selama 10 hari. Pada hari yang sama, Iran langsung mengumumkan pembukaan kembali Selat Hormuz menyusul tercapainya kesepakatan damai tersebut.
Baca Juga: Trump Ancam Hancurkan Oman: 'Jangan Ikut Campur Urusan Selat Hormuz!'
Langkah pelonggaran dari pihak Teheran tersebut sempat mendapatkan pujian langsung dari Presiden AS Donald Trump. Namun, Trump menekankan bahwa blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran di sepanjang selat tersebut tetap berlanjut.
Situasi kembali memanas pada Sabtu (18/4/2026) akibat kebijakan blokade sepihak yang belum dicabut oleh Amerika Serikat. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf akhirnya mengumumkan bahwa Selat Hormuz resmi ditutup kembali karena blokade AS terus berlanjut.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy
Tag Terkait: