Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Eks Menkeu Sebut Prabowo Setengah Mati 'Cuci Piring' Jokowi

Eks Menkeu Sebut Prabowo Setengah Mati 'Cuci Piring' Jokowi Kredit Foto: Muchlis Jr - Biro Pers Sekretariat Presiden
Warta Ekonomi, Jakarta -

Presiden Prabowo Subianto disebut tengah menghadapi pekerjaan raksasa untuk membenahi tata kelola sumber daya alam Indonesia yang selama bertahun-tahun dinilai penuh persoalan.

Bahkan, upaya tersebut diibaratkan sebagai pekerjaan "cuci piring" yang begitu berat hingga belum tentu bisa tuntas dalam satu periode pemerintahan.

Pernyataan itu diungkapkan mantan Menteri Keuangan era Presiden Soeharto, Fuad Bawazier, usai berdiskusi langsung dengan Prabowo pada awal Mei 2026.

“Saya berjumpa dengan beliau awal-awal Mei ya sebelum beliau pidato di DPR 20 Mei itu. Saya mendengarkan apa yang dikonsenkan oleh beliau,” kata Fuad, dikutip dari YouTube Forum Keadilan TV, Senin (1/6). 

Menurut Fuad, Prabowo sangat serius membenahi tata kelola kekayaan alam nasional dengan berpegang pada amanat Pasal 33 UUD 1945 yang menegaskan bahwa sumber daya alam harus dikuasai negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Fuad mengaku Prabowo memahami betapa rumitnya persoalan yang diwarisi saat ini. Dalam pertemuan mereka, Presiden bahkan menggambarkan proses pembenahan tersebut layaknya pekerjaan membersihkan tumpukan persoalan yang sudah berlangsung lama.

“Setengah mati cuci piringnya itu banyak benar. Jangan-jangan lima tahun nggak selesai nyuci piringnya,” ungkap Fuad. 

Menurutnya, praktik eksploitasi komoditas seperti batu bara, nikel, emas, uranium hingga torium selama bertahun-tahun telah menyebabkan kerugian besar bagi negara.

Baca Juga: Prabowo Presiden Langka, Qodari: Mungkin Satu-satunya di Dunia...

“Maaf ngomong ya, istilahnya itu memang sudah betul-betul perampokan. Batu bara, nikel, emas, uranium, torium, semuanya,” tegasnya.

Fuad pun menyebut periode 10 tahun pemerintahan Presiden ke-7 RI Joko Widodo sebagai masa paling parah dalam praktik eksploitasi sumber daya alam.

“Perampokan terparah terhadap sumber daya alam kita ya di masa 10 tahun Pak Jokowi,” ujar dia.

Menurutnya, eksploitasi besar-besaran dilakukan dengan dalih mengejar pertumbuhan ekonomi tinggi. Namun dalam praktiknya, justru memunculkan tambang ilegal, manipulasi ekspor, hingga praktik transfer pricing yang merugikan negara.

“Pertumbuhannya malah turun jadi 5 persen, penerimaan pajak turun, kerusakan alam luar biasa. Jadi tidak ada kata yang lebih sopan selain memang ini perampokan,” terangnya.

Fuad memperkirakan potensi kerugian negara akibat praktik tersebut mencapai ribuan triliun rupiah. Keuntungan besar, kata dia, hanya dinikmati segelintir kelompok, sementara negara kehilangan penerimaan pajak dan devisa dalam jumlah besar.

Meski menghadapi tantangan berat, Fuad menilai Prabowo tetap berada di jalur yang tepat. Ia menyebut pembentukan PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) sebagai salah satu langkah strategis untuk memperbaiki tata kelola ekspor komoditas strategis nasional.

“Semua penjualan nantinya dipusatkan melalui negara. Itu kunci pertama supaya nggak bisa main-main lagi,” katanya.

Menurut Fuad, sistem ekspor satu pintu akan membantu memperkuat devisa negara, meningkatkan penerimaan pajak, sekaligus menekan praktik penyelundupan dan manipulasi perdagangan yang selama ini terjadi.

Namun, ia mengingatkan bahwa langkah tersebut tidak akan berjalan mudah karena berhadapan dengan kelompok-kelompok besar yang selama ini menikmati keuntungan dari sistem lama.

“Mereka akan selalu berusaha mengulur-ulur. Tapi pemerintah harus teguh. Jangan percaya omongan mereka,” imbuhnya.

Fuad bahkan menilai kekuatan oligarki saat ini lebih besar dibanding era Orde Baru.

“Kalau Orde Baru mereka masih di luar pagar kekuasaan. Sekarang mereka sudah bisa mendikte,” ujarnya.

Baca Juga: Respons Relawan soal Jokowi Keliling Indonesia Demi Gibran 2029: Pure untuk PSI

Meski demikian, ia tetap optimistis terhadap arah kebijakan Prabowo dalam membenahi sektor strategis tersebut.

“Tidak ada kekuatan yang lebih besar dari pemerintah kalau pemerintahnya bersih, serius, dan teguh,” ujar Fuad.

Ia pun menutup dengan keyakinan bahwa keberhasilan memperbaiki tata kelola sumber daya alam akan menjadi kunci kebangkitan Indonesia di masa depan.

“Pak Prabowo masih on the track. Rakyat masih punya harapan,” tambahnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri