Kewirausahaan Sosial jadi Model Pemberdayaan Ekonomi untuk Mencapai Indonesia Emas 2045
Kredit Foto: Istimewa
Kewirausahaan sosial dinilai memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Model usaha yang memadukan aktivitas bisnis dengan nilai sosial, keagamaan, dan kearifan lokal tersebut dinilai mampu menciptakan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi komunitas.
Pandangan itu disampaikan Guru Besar dari University of New South Wales (UNSW) Sydney, Australia, Prof. Dr. Minako Sakai, saat menjadi pembicara dalam program International Visiting Professor 2026 di Fakultas Ekonomi, Hukum, dan Bisnis (FEHBI) Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus).
Dalam pemaparannya, Prof. Minako menjelaskan bahwa kewirausahaan sosial merupakan pendekatan pemberdayaan ekonomi yang berakar pada nilai-nilai agama, khususnya Islam, serta kearifan lokal yang berkembang di masyarakat Indonesia. Melalui berbagai penelitian yang dilakukannya, ia menemukan banyak pelaku usaha, terutama perempuan, yang berhasil menggabungkan kegiatan bisnis dengan praktik filantropi untuk meningkatkan kesejahteraan komunitas di sekitarnya.
Menurutnya, pendekatan tersebut tidak hanya menghasilkan keuntungan ekonomi, tetapi juga menciptakan dampak sosial yang lebih luas. Salah satu organisasi yang dinilai memberikan perhatian besar terhadap pengembangan model ini adalah Muhammadiyah, yang aktif dalam berbagai program pemberdayaan masyarakat berbasis kewirausahaan.
Prof. Minako menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan kewirausahaan sosial. Dengan jumlah penduduk yang besar dan pasar yang luas, berbagai inovasi bisnis yang berorientasi pada penyelesaian masalah sosial memiliki ruang tumbuh yang menjanjikan.
Ia juga menekankan pentingnya peran generasi muda dalam memperkuat ekosistem kewirausahaan nasional. Menurutnya, mahasiswa yang dipersiapkan menjadi generasi Indonesia Emas 2045 perlu memiliki keberanian untuk membangun usaha sekaligus menciptakan solusi bagi berbagai persoalan sosial di masyarakat.
“Mahasiswa yang saat ini dipersiapkan menjadi generasi emas 2045 diharapkan dapat menekuni dunia wirausaha dan menjadi pebisnis yang berhasil,” kata Prof. Minako.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa keberhasilan dalam berwirausaha tidak cukup hanya mengandalkan minat dan tekad. Pelaku usaha juga harus mampu menghadirkan inovasi, menciptakan terobosan, serta memahami kebutuhan dan kondisi sosial masyarakat agar bisnis yang dijalankan dapat berkembang sekaligus memberikan manfaat yang lebih luas.
Sementara itu, Wakil Rektor Unimus, M. Yusuf, mengatakan kehadiran Prof. Minako memberikan nilai tambah bagi pengembangan wawasan akademik mahasiswa dan dosen, khususnya dalam bidang ekonomi dan kewirausahaan.
Menurutnya, program International Visiting Professor menjadi bagian dari upaya internasionalisasi FEHBI Unimus untuk memperluas jejaring ilmu pengetahuan dan teknologi di tingkat global.
Senada, Wakil Dekan FEHBI Unimus, KRMT A.M. Jumai, menilai kunjungan Prof. Minako memberikan perspektif baru mengenai pentingnya membangun jaringan yang kuat guna mendukung kemandirian generasi muda dalam dunia usaha.
Baca Juga: Negara Digugat Wajib Biayai Pesantren, Hakim Ingatkan Harus Siap 'Diatur'
Ia berharap lulusan FEHBI Unimus tidak hanya berorientasi menjadi pekerja profesional, tetapi juga mampu tumbuh sebagai wirausahawan yang memiliki jejaring luas hingga tingkat internasional.
Dekan FEHBI Unimus, Andwiani Sinarasri, menambahkan bahwa kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi internasional di bidang ekonomi, bisnis, dan pemberdayaan masyarakat.
Melalui kegiatan ini, Unimus berharap dapat mendorong lahirnya lebih banyak wirausahawan muda yang tidak hanya mengejar keuntungan bisnis, tetapi juga mampu menciptakan dampak sosial yang nyata serta berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi Indonesia menuju 2045.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: