Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Trump Sengaja 'Perpanjang' Perang Iran dan Amerika, Caranya Dibongkar Penasihat Khamenei

Trump Sengaja 'Perpanjang' Perang Iran dan Amerika, Caranya Dibongkar Penasihat Khamenei Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pemerintah Iran mulai mengungkap alasan di balik sikap hati-hatinya dalam merespons berbagai tawaran perdamaian dari Amerika Serikat (AS). Di tengah upaya mengakhiri konflik yang telah berlangsung berbulan-bulan, Teheran menilai isi proposal yang diajukan Washington masih menyisakan banyak ketidakjelasan.

Penasihat Mojtaba Khamenei, Mohsen Rezaei menuding Presiden Amerika Serikat Donald Trump berusaha menekan Iran agar memberikan berbagai konsesi, sementara komitmen yang harus dipenuhi pihak Amerika justru tidak dijelaskan secara tegas.

Baca Juga: 'Ada Alasan untuk Semua,' Amerika Akui Lakukan Serangan Meski Ada Gencata Senjata dengan Iran

Menurut Rezaei, kondisi tersebut membuat proses negosiasi berjalan tidak seimbang dan berpotensi memperpanjang ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Rezaei mengungkapkan bahwa rancangan kesepakatan yang dikirim Amerika Serikat masih mengandung banyak klausul yang dianggap ambigu.

Ia menegaskan Iran membutuhkan penjelasan yang lebih rinci sebelum mengambil keputusan terhadap proposal tersebut.

Bagi Teheran, kejelasan komitmen menjadi faktor penting mengingat kesepakatan yang akan dicapai nantinya menyangkut penghentian konflik, stabilitas kawasan, hingga masa depan hubungan kedua negara.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa hambatan utama dalam negosiasi saat ini bukan hanya soal substansi politik dan keamanan, tetapi juga minimnya kepastian mengenai kewajiban yang harus dipenuhi masing-masing pihak.

Sehari sebelumnya, Rezaei juga menyampaikan pesan keras melalui media sosial X. Ia menegaskan Iran tidak akan tunduk terhadap tuntutan yang dianggap berlebihan dari Amerika Serikat, baik dalam proses negosiasi yang sedang berlangsung maupun dalam pembahasan mengenai gencatan senjata permanen.

Menurutnya, tekanan yang terus diberikan Washington justru memperbesar ketidakpercayaan dan menyulitkan tercapainya kesepakatan yang dapat diterima kedua belah pihak.

"Sejarah tidak berjalan mundur dan pihak agresor akan menerima hukuman dengan cepat," tegas Rezaei.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Iran masih memandang Amerika Serikat sebagai pihak yang memiliki peran besar dalam berlanjutnya konflik saat ini.

Tuduhan Iran muncul di tengah meningkatnya ketegangan militer dalam beberapa hari terakhir. Serangan dan aksi balasan masih terjadi meskipun berbagai upaya diplomatik terus dilakukan.

Di sisi lain, pemerintah Iran tetap mempelajari sejumlah proposal yang diajukan Presiden Trump untuk mengakhiri perang sekaligus membuka kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.

Namun, selama isi kesepakatan masih dianggap samar dan tidak memberikan kepastian mengenai komitmen Amerika Serikat, peluang tercapainya perdamaian yang berkelanjutan diperkirakan masih menghadapi jalan panjang.

Baca Juga: Kongres Amerika Geram, Trump Malah Tertidur Saat Rapat Penting

Situasi ini membuat negosiasi tidak hanya menjadi ajang mencari titik temu, tetapi juga pertarungan kepercayaan antara dua negara yang selama puluhan tahun berada dalam hubungan penuh ketegangan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar