Iran Klaim AS dan Israel Coba Pecah Belah Rakyat Lewat Perang Hibrida
Kredit Foto: Istimewa
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menuduh Amerika Serikat dan Israel tengah menjalankan strategi “perang hibrida” untuk memecah belah rakyat Iran setelah disebut mengalami kekalahan dalam konflik di kawasan Timur Tengah. Ia menyebut upaya tersebut sebagai bagian dari manuver politik dan psikologis untuk melemahkan stabilitas dalam negeri Iran.
Dalam pesan tertulis yang disampaikan pada Kamis (4/6/2026), Mojtaba mengatakan bahwa “musuh jahat” berusaha menanamkan berbagai sentimen negatif di tengah masyarakat.
“Dalam menghadapi niat buruk ini, setiap orang harus, dengan keteguhan hati, wawasan, menjaga persatuan dan kesatuan... menetralisir rencana jahat mereka,” demikian isi pesannya seperti dilansir AFP.
Ia menegaskan bahwa berbagai upaya tersebut mencakup penyebaran keraguan, ketakutan, keputusasaan, hingga ketidakpercayaan di antara rakyat Iran. Menurutnya, kondisi itu menjadi bagian dari strategi yang dirancang untuk menciptakan perpecahan sosial dan politik di dalam negeri.
Perang hibrida sendiri merupakan istilah yang merujuk pada strategi konflik modern yang tidak hanya mengandalkan kekuatan militer, tetapi juga kombinasi tekanan non-militer seperti propaganda, perang informasi, serangan siber, hingga pengaruh politik dan ekonomi untuk melemahkan lawan dari dalam.
Mojtaba juga menyoroti peran pemerintah Iran yang dinilainya sangat penting dalam menjaga stabilitas nasional. Ia menilai setiap tindakan yang menimbulkan pesimisme di masyarakat dapat dianggap sebagai bentuk dukungan tidak langsung kepada musuh negara.
Pernyataan tersebut disampaikan melalui seorang imam dalam upacara di mausoleum pendiri Revolusi Islam Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini. Acara itu digelar dalam rangka peringatan 37 tahun wafatnya Khomeini dan dihadiri jutaan warga Iran menurut laporan media lokal Press TV.
Dalam momentum tersebut, masyarakat Iran tampak menghadiri upacara di kompleks mausoleum di selatan Teheran sambil mengibarkan bendera Republik Islam Iran serta spanduk Hizbullah. Kehadiran massa besar itu menjadi simbol dukungan terhadap ideologi dan kepemimpinan negara.
Mojtaba menyebut bahwa pihak musuh telah mengalami kekalahan dan penghinaan dalam konfrontasi langsung dengan angkatan bersenjata Iran. Namun, menurutnya, kegagalan di medan perang kini dialihkan ke strategi lain di luar pertempuran fisik.
Ia menuduh AS dan Israel kini mengandalkan pendekatan perang hibrida untuk melemahkan ketahanan rakyat Iran. Strategi tersebut, katanya, diarahkan untuk menciptakan kesalahan perhitungan di kalangan pejabat negara serta melemahkan kepercayaan publik.
“Musuh yang jahat, setelah dikalahkan dalam konfrontasinya dengan putra-putra pemberani di Angkatan Bersenjata dan setelah mengalami penghinaan yang besar dan berarti, baik di medan perang maupun di ranah publik, telah memusatkan upayanya pada dua tujuan dalam kerangka perang hibrida,” kata Mojtaba.
Ia menambahkan bahwa dua tujuan utama strategi tersebut adalah melemahkan ketahanan rakyat dan menciptakan disinformasi yang dapat memengaruhi pengambilan keputusan politik di Iran. Menurutnya, kondisi ini harus dihadapi dengan persatuan nasional yang kuat.
Baca Juga: Dampak Putusan Kongres AS Meloloskan War Powers Resolution terhadap Perang Iran
Di sisi lain, ia menyerukan agar masyarakat Iran tetap menjaga kesatuan dan tidak terpengaruh oleh propaganda yang beredar. Ia menegaskan bahwa setiap upaya yang menimbulkan perpecahan akan berdampak langsung pada kepentingan nasional.
Pernyataan Mojtaba Khamenei ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kembali melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel dalam berbagai konflik kepentingan strategis. Situasi tersebut memperkuat narasi bahwa perang tidak hanya terjadi di medan tempur, tetapi juga melalui opini dan informasi di ruang publik.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama
Tag Terkait: