Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Menkeu Bantah Omzet Warteg Turun Jadi Bukti Daya Beli Melemah

Menkeu Bantah Omzet Warteg Turun Jadi Bukti Daya Beli Melemah Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Keluhan sejumlah pedagang warung tegal atau warteg terkait menurunnya jumlah pembeli belakangan menjadi sorotan. Namun, pemerintah menilai kondisi tersebut belum bisa dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa daya beli masyarakat Indonesia sedang melemah.

Sejumlah pelaku usaha warteg di Jakarta mengaku mengalami penurunan omzet sejak Idul Fitri 2026. Mereka menyebut jumlah pelanggan berkurang, sementara harga berbagai bahan pangan justru terus mengalami kenaikan.

Karyawan Warteg Abimanyu Bahari di kawasan Kebagusan, Jakarta Selatan, Atik (24), mengatakan penjualan di tempatnya bekerja terus menurun dalam beberapa bulan terakhir. Menurut dia, kondisi tersebut mulai terasa setelah periode Lebaran berakhir.

"Ngerasain (dampak ekonomi lesu), penjualan dari mulai habis Lebaran sampai ke sini tuh kayak berkurang gitu," kata Atik.

Atik menjelaskan sebelum Lebaran, omzet harian warteg tempatnya bekerja masih mampu menembus lebih dari Rp5 juta per hari. Namun saat ini pendapatan kotor yang diperoleh disebut terus menyusut di tengah meningkatnya biaya operasional.

Temuan tersebut kemudian mendapat tanggapan dari Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa. Ia meminta publik tidak terburu-buru menarik kesimpulan bahwa kondisi beberapa warteg mencerminkan situasi ekonomi nasional secara keseluruhan.

Menurut Purbaya, pengamatan terhadap satu atau beberapa lokasi usaha tidak cukup untuk menggambarkan kondisi daya beli masyarakat Indonesia. Ia mengingatkan bahwa ada banyak faktor yang dapat memengaruhi performa sebuah usaha, termasuk persaingan bisnis maupun perubahan lokasi pelanggan.

"Kalau sampel Anda berapa warteg? Saya bisa cari lima warteg yang mungkin jelek, mungkin kalah bersaing, terus pindah ke tempat lain yang lebih bagus. Itu yang harus kita hati-hati," kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Jumat (5/6/2026).

Purbaya menilai kondisi ekonomi harus dilihat melalui data yang lebih luas dan terukur. Karena itu, pemerintah mengandalkan berbagai indikator ekonomi nasional untuk membaca tren konsumsi masyarakat secara lebih akurat.

Menurut dia, sejumlah data agregat justru menunjukkan aktivitas belanja masyarakat masih bergerak positif. Salah satu indikator yang menjadi perhatian pemerintah adalah indeks penjualan ritel yang masih mencatat pertumbuhan.

"Tapi kalau data yang lain kan kelihatan yang agregat tumbuhnya kencang semua. Belanja juga tumbuhnya kencang. Retail index itu kan orang belanja betulan," ujarnya.

Meski demikian, pemerintah tidak menutup mata terhadap berbagai laporan yang muncul dari lapangan. Purbaya memastikan pihaknya akan mempelajari lebih lanjut informasi mengenai penurunan omzet warteg maupun perubahan pola konsumsi masyarakat.

Ia juga membuka peluang pemberian stimulus tambahan apabila hasil evaluasi menunjukkan adanya perlambatan konsumsi yang perlu segera ditangani. Menurutnya, pemerintah siap mengambil langkah untuk menjaga pertumbuhan ekonomi tetap berjalan.

"Kalau memang ini benar, saya akan tambah lagi stimulus ke perekonomian," katanya.

Selain itu, Purbaya menilai pencairan gaji ke-13 aparatur sipil negara dalam waktu dekat berpotensi memberikan tambahan daya beli bagi masyarakat. Dana yang beredar dari pencairan tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp40 triliun.

"Yang jelas awal bulan ini ada gaji ke-13. Yang tadinya dicari Rp30 triliun sekarang jadi Rp40 triliun. Itu akan memberi daya beli tambahan," ujarnya.

Purbaya juga mengingatkan bahwa kesimpulan ekonomi tidak boleh dibangun hanya dari satu kasus atau satu lokasi tertentu. Menurut dia, pemerintah memiliki berbagai instrumen statistik yang digunakan untuk melihat kondisi ekonomi nasional secara menyeluruh.

Baca Juga: Optimistis Tren Neraca Perdagangan Masih Positif, Purbaya Pamer Derasnya Aliran Masuk Modal Asing ke SRBI

Ia mengibaratkan kesalahan membaca kondisi ekonomi dari sampel terbatas sebagai praktik fishing expedition, yakni menarik kesimpulan besar hanya berdasarkan pengamatan yang sangat sempit. Karena itu, pemerintah akan tetap mengacu pada data yang dihimpun secara komprehensif sebelum mengambil kebijakan.

"Mungkin iya, mungkin tidak. Tapi saya bukan menafikan itu. Kita akan pelajari. Terima kasih masukannya," kata Purbaya

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama