Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Optimistis Tren Neraca Perdagangan Masih Positif, Purbaya Pamer Derasnya Aliran Masuk Modal Asing ke SRBI

Optimistis Tren Neraca Perdagangan Masih Positif, Purbaya Pamer Derasnya Aliran Masuk Modal Asing ke SRBI Kredit Foto: Muhammad Farhan Shatry
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kementerian Keuangan melaporkan neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus selama 72 bulan berturut-turut. Di saat yang sama, arus modal asing juga mulai kembali masuk ke instrumen keuangan domestik, terutama Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan sekaligus Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan tren surplus perdagangan tetap terjaga meskipun mengalami sedikit penurunan pada April 2026.

Menurut dia, perlambatan tersebut antara lain dipengaruhi meningkatnya impor bahan bakar minyak (BBM) di tengah eskalasi geopolitik di Timur Tengah.

“Ini berlanjut terus selama 72 bulan berturut-turut walaupun agak turun sedikit di bulan April karena impor BBM meningkat. Namun secara year to date Januari sampai April masih naik 5,48% dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa, Jumat (5/6/2026).

Selain surplus perdagangan, Purbaya juga menyoroti perbaikan arus modal asing pada triwulan II-2026. Setelah mengalami tekanan pada triwulan I, investasi asing mulai kembali mencatatkan aliran masuk (inflow), terutama pada instrumen SBN dan SRBI.

Ia mengungkapkan hingga 3 Juni 2026, aliran dana asing ke SBN mencapai Rp14,4 triliun, sedangkan ke SRBI mencapai Rp70,1 triliun.

“Total akumulasi arus modal pada triwulan kedua sudah kembali mencatatkan inflow sebesar Rp60,9 triliun sampai dengan 3 Juni,” kata Purbaya.

Menurutnya, tingginya minat investor terhadap SRBI menunjukkan instrumen moneter domestik masih memiliki daya tarik yang kuat di tengah ketidakpastian global.

“SRBI, dengan langkah agresif bank sentral, sampai Juni juga sudah mencatat inflow sebesar Rp70,1 triliun,” ujarnya.

Purbaya menilai derasnya aliran dana asing tersebut menjadi sinyal bahwa kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia masih terjaga.

“Kalau kita lihat di sini, optimismenya masih ada terhadap ekonomi Indonesia,” katanya.

Baca Juga: Utang Warga RI Makin Numpuk! Hingga April Sentuh Rp102 Triliun

Baca Juga: Pemerintah Tarik Utang Rp386 Triliun hingga Mei 2026, Ini Penjelasan Purbaya

Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp18.000, Bagaimana Kemampuan Pemerintah Bayar Utang?

Ia juga menyinggung munculnya sejumlah narasi pesimistis mengenai prospek ekonomi nasional, termasuk anggapan bahwa Indonesia menuju resesi. Menurutnya, berbagai indikator ekonomi belum menunjukkan kondisi tersebut.

Purbaya menegaskan likuiditas, stimulus ekonomi, konsumsi masyarakat, serta pertumbuhan kredit perbankan masih berada dalam tren yang positif hingga Mei 2026.

“Jadi saya agak bingung kenapa ada cerita bahwa ekonomi kita menuju resesi, ketika stimulus ekonomi cukup, likuiditas cukup, dan pertumbuhan kredit juga masih cukup baik,” ujar Purbaya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Muhammad Farhan Shatry
Editor: Annisa Nurfitri