Kredit Foto: Antara
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mewaspadai potensi dampak pergerakan nilai tukar rupiah terhadap sektor jasa keuangan, khususnya perbankan. Mata uang Garuda pada pekan ini sudah berada di level psikologis dengan ditutup di atas Rp18.000 per USD.
"OJK tentunya terus mewaspadai berbagai kanal transmisi risiko dari pergerakan nilai tukar rupiah terhadap lembaga jasa keuangan di Indonesia," kata wanita akrab disapa Kiki, dalam konferensi pers, Jumat (5/6/2026).
Kiki memahami pelemahan rupiah tetap berpotensi menimbulkan risiko tidak langsung terhadap sektor keuangan melalui berbagai jalur transmisi. Salah satu risiko yang menjadi perhatian adalah meningkatnya beban kewajiban valuta asing (valas) korporasi, terutama perusahaan yang memiliki pinjaman dalam mata uang asing.
Selain itu, sektor usaha yang bergantung pada impor juga berpotensi menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya bahan baku dan biaya operasional.
OJK juga mewaspadai kemungkinan meningkatnya risiko kredit apabila pelemahan rupiah berlangsung dalam jangka panjang dan diperburuk oleh kenaikan harga komoditas energi global.
"Kenaikan harga komoditas energi global yang tentunya bisa mempengaruhi kualitas aset perbankan, khususnya penurunan kemampuan bayar debitor yang terdampak apabila kondisi keuangan tersebut terus berlanjut," kata dia.
Untuk mengantisipasi berbagai risiko tersebut, OJK akan memperkuat pengawasan terhadap aktivitas valuta asing di industri perbankan. Langkah yang dilakukan antara lain melalui pemantauan posisi devisa neto harian, kecukupan likuiditas valuta asing, serta kepatuhan bank terhadap ketentuan terkait transaksi valas.
Selain itu, OJK juga akan meningkatkan supervisory dialogue dengan bank-bank yang menunjukkan akumulasi posisi tertentu guna memastikan penerapan manajemen risiko pasar dan risiko likuiditas berjalan secara memadai.
"Tentunya kami juga akan terus mempererat koordinasi dengan Bank Indonesia selaku otoritas moneter untuk memastikan kecukupan likuditas valas di sistem keuangan terus terjaga," ungkap dia.
Baca Juga: Tekanan Global dan Revisi OECD Bikin Rupiah Berada di Rp18.036 pada Penutupan Pekan Ini
Baca Juga: Siapa Sangka? Pelemahan Rupiah Ternyata Lebih Cepat Dibanding Lira Turki
Di sisi lain, Kiki justru menilai kondisi industri perbankan saat ini masih cukup kuat untuk menghadapi tekanan dari volatilitas kurs. Dia menyampaikan bahwa dampak langsung pergerakan nilai tukar terhadap industri perbankan hingga saat ini masih relatif terkendali.
"Dari mana lihatnya hal ini? Bisa lihat dari rasio kecukupan modal perbankan yang masih solid dengan capital adequacy ratio per April tahun ini masih sebesar 23,97%, sehingga ini masih memberikan ruang penyangga yang cukup dalam menyerap berbagai potensi risiko," kata Kiki.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: