Kredit Foto: PBRX
Selain fokus pada efisiensi, Pan Brothers juga mengaku relatif terlindungi dari gejolak nilai tukar karena memiliki struktur bisnis berbasis ekspor yang didominasi dolar AS.
Fitri menjelaskan sebagian besar pendapatan ekspor perseroan diterima dalam mata uang dolar AS, sementara mayoritas bahan baku yang digunakan juga dibeli menggunakan mata uang yang sama.
“Untuk mata uang, kita memang banyak pakai US Dollar karena penjualan ekspor menggunakan US Dollar. Tetapi pembelian bahan baku sebagian besar, sekitar 60% sampai 65%, juga menggunakan US Dollar. Jadi sebenarnya kita natural hedge,” ujarnya.
Meski demikian, perusahaan menilai stabilitas nilai tukar tetap menjadi faktor penting dalam menjaga kepastian bisnis dan hubungan dengan pembeli internasional.
“Isu utamanya adalah kestabilan. Kalau tidak stabil, buyer juga kadang menjadi khawatir,” tambah Fitri.
Dari sisi pasar, Pan Brothers masih mengandalkan ekspor ke Amerika Serikat, Eropa, dan Asia sebagai sumber utama pendapatan. Perseroan juga mulai menjalin kerja sama dengan sejumlah pembeli baru untuk mendukung pertumbuhan penjualan.
Baca Juga: PTMP Bidik Pertumbuhan 15% pada 2026, Fokus Ekspansi dan Teknologi
Baca Juga: HRTA Catat Volume Penjualan Emas 7,83 Ton di Q1 2026, Pendapatan Tembus Rp20,16 Triliun
Namun, manajemen menegaskan ekspansi pasar dilakukan secara selektif agar tidak membebani kebutuhan modal kerja.
“Penjajakan buyer baru ada beberapa, cuma secara nilai sales masih kecil karena baru mulai. Nilainya antara USD2 juta sampai USD3 juta. Kami harus konservatif, karena kalau mengambil order terlalu banyak, modal kerjanya juga harus dicukupkan. Jadi kami fokus pada kapabilitas yang ada dulu,” kata Fitri.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: