Kredit Foto: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) menilai kecerdasan artifisial (AI) dan integrasi data akan menjadi faktor utama yang menentukan daya saing industri di masa depan. Di tengah pesatnya adopsi teknologi digital, kualitas data dan kedaulatan data dinilai menjadi fondasi penting agar pemanfaatan AI dapat menghasilkan nilai ekonomi yang optimal bagi pelaku usaha maupun negara.
Direktur & Chief Enterprise Business Officer XLSMART, Andrijanto Muljono, mengatakan AI tidak dapat dipisahkan dari data karena kualitas output yang dihasilkan sangat bergantung pada kualitas data yang digunakan.
“Tanpa data yang benar, AI-nya juga tidak benar,” ujar Andrijanto dalam sesi tanya jawab bersama media di Jakarta, Senin (8/6/2026).
Menurutnya, volume data yang dihasilkan Indonesia terus meningkat seiring digitalisasi berbagai aktivitas ekonomi. Data tersebut berasal dari transaksi digital, penggunaan aplikasi, hingga aktivitas masyarakat di internet yang kemudian menjadi dasar dalam pengambilan keputusan bisnis maupun kebijakan publik.
“Pemerintah membuat kebijakan berdasarkan data. Perusahaan juga membuat keputusan bisnis berdasarkan data,” katanya.
Senada dengan itu, Chief Enterprise Business XLSMART, Feby Sallyanto, menegaskan bahwa validitas data menjadi faktor kunci dalam menentukan akurasi analisis yang dihasilkan AI.
“Kalau data-data yang dikumpulkan itu tidak valid atau seenaknya, maka apapun analisa yang dihasilkan itu akan salah,” ujarnya.
Selain kualitas data, XLSMART juga menyoroti isu kedaulatan data yang semakin relevan di tengah berkembangnya industri AI global. Perusahaan menilai sebagian besar data yang dihasilkan di Indonesia masih diproses melalui platform milik perusahaan teknologi global seperti Google, Amazon Web Services (AWS), dan Microsoft Azure.
Kondisi tersebut membuat nilai tambah dari pemanfaatan data berpotensi lebih banyak dinikmati oleh penyedia teknologi luar negeri. Karena itu, perusahaan mendorong pengembangan ekosistem yang memungkinkan data dikumpulkan, diolah, dan dimanfaatkan di dalam negeri.
“Kita mencoba nih dengan adanya ESTA, kita mencoba agar data-data yang selayaknya atau seharusnya ada di Indonesia itu kita kumpulkan di Indonesia dan kita olah di Indonesia. Sampai nanti menjadi AI-nya,” kata Andrijanto.
Melalui platform Enterprise Smart Technology & Automation (ESTA), XLSMART mengembangkan solusi pengelolaan data dan AI yang dirancang untuk mendukung kebutuhan industri domestik. Pendekatan tersebut dinilai penting mengingat setiap sektor memiliki karakteristik data yang berbeda.
Perusahaan mencontohkan kebutuhan analisis data di sektor pertambangan, perkebunan, manufaktur, hingga jasa keuangan memiliki pola yang berbeda sehingga memerlukan model AI yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing industri.
Baca Juga: XLSmart Dorong Kolaborasi AI untuk Perkuat Daya Saing Indonesia
Baca Juga: 'Kacamata Aneh' Tak Laku! Meta Ikut 'Serius' Kembangkan AI Setelah Rugi dari AR dan VR
Baca Juga: Tren AI dan Ketahanan Siber Dorong Revolusi Baru di Industri Infrastruktur Data Enterprise
Di sisi lain, meningkatnya adopsi AI global juga mendorong lonjakan kebutuhan infrastruktur komputasi seperti GPU, chipset, dan memori. Tren tersebut menyebabkan kenaikan biaya investasi teknologi yang dirasakan berbagai industri.
Meski demikian, XLSMART mengaku relatif siap menghadapi kondisi tersebut karena telah lebih dulu membangun fondasi infrastruktur AI sejak tahun lalu.
“Untungnya kita sudah mulai duluan. Jadi saat ini boleh dibilang semua industri memang terimpact dengan harga itu. Pertama dari kebutuhan chipset, terus juga US dolar sendiri. Untungnya untuk XLSmart ini kita sudah mulai duluan. Jadi saat ini untuk platform yang kita bangun, boleh dibilang masih cukup aman,” ujarnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: