Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Tren AI dan Ketahanan Siber Dorong Revolusi Baru di Industri Infrastruktur Data Enterprise

Tren AI dan Ketahanan Siber Dorong Revolusi Baru di Industri Infrastruktur Data Enterprise Kredit Foto: Synology
Warta Ekonomi, Jakarta -

Lanskap industri teknologi global tengah mengalami pergeseran masif seiring dengan adopsi kecerdasan buatan (AI) yang semakin intensif dan ancaman siber yang kian kompleks. Kondisi ini memaksa sektor industri infrastruktur data enterprise untuk bertransformasi total. 

Saat ini, perusahaan tidak lagi hanya membutuhkan ruang penyimpanan statis, melainkan platform data cerdas yang mampu menjaga kedaulatan data privat sekaligus memberikan pertahanan siber yang proaktif. Menjawab tantangan industri tersebut, Synology memaparkan arah pengembangan platform data generasi terbarunya dalam rangkaian Computex 2026 di Taipei. 

Langkah ini menandai babak baru di mana infrastruktur data modern dituntut untuk bergerak melampaui fungsi proteksi reaktif menuju ekosistem yang mandiri, terkontrol, dan siap mendukung pemrosesan AI secara lokal (on-premise).

Chairman dan CEO Synology, Philip Wong, mengatakan di tengah pesatnya pemanfaatan AI, industri kini menghadapi dilema besar terkait privasi, biaya, tata kelola, dan kepatuhan regulasi (compliance) saat menggunakan layanan AI berbasis cloud. 

Banyak organisasi memiliki aset data internal yang sangat bernilai mulai dari dokumen operasional hingga log system namun ragu untuk memanfaatkannya karena risiko kebocoran data sensitif ke luar lingkungan perusahaan.

Tren industri saat ini menunjukkan peningkatan permintaan terhadap solusi AI Privat. Menanggapi kebutuhan pasar ini, roadmap generasi berikutnya dari DiskStation Manager (DSM) milik Synology dirancang untuk mengubah sistem operasi penyimpanan menjadi platform data cerdas. Pendekatan ini memungkinkan perusahaan membangun knowledge base privat dari data lokal mereka sendiri.

“Adopsi AI di enterprise kini bukan lagi tantangan utama. Tantangan sebenarnya di industri saat ini adalah bagaimana organisasi tetap memiliki kendali penuh atas data mereka,” ujar Philip dalam keterangan tertulis yang diterima, Jumat (5/6/2026).

Untuk mendukung beban kerja AI industri yang lebih intensif, pasar juga melihat integrasi yang semakin erat antara penyimpanan data dengan perangkat keras berperforma tinggi, seperti server rack GPU dan appliance AI khusus untuk proses inferensi lokal.

Tantangan industri lain yang tidak kalah krusial adalah meningkatnya kompleksitas pengelolaan infrastruktur di lingkungan yang tersebar (hybrid/multi-cloud), sementara industri terus dihadapkan pada keterbatasan talenta IT.

Untuk mengatasi kompleksitas operasional ini, arah industri kini berfokus pada otomatisasi skala besar. Melalui inovasi seperti DSM Agent dan Cluster Manager, tim IT kini dapat mengelola ribuan sistem terdistribusi dari satu antarmuka terpusat. 

Selain itu, adopsi teknologi berbasis container (workload terisolasi) menjadi standar baru di industri untuk memudahkan migrasi data lintas sistem dan penerapan Quality of Service (QoS) yang lebih fleksibel.

Dari sisi kepatuhan industri yang semakin ketat, sistem perlindungan data modern kini memperluas standar keamanannya, termasuk integrasi secure element bawaan dan pemenuhan sertifikasi global seperti FIPS 140-3.

Philip menjelaskan, industri perlindungan data (data protection) juga mengalami evolusi radikal. Karena beban kerja (workload) enterprise kini tersebar di berbagai platform seperti Azure Virtual Machines, Amazon EC2, Nutanix AHV, Proxmox VE, hingga Google Workspace, strategi backup tunggal sudah tidak lagi relevan.

Melalui pembaruan ActiveProtect Manager 2.0, industri kini diperkenalkan pada standar baru pemulihan fleksibel (lintas platform dari cloud ke on-premise atau sebaliknya) serta kemampuan restorasi cloud-to-cloud langsung ke lingkungan produksi demi memangkas biaya operasional global.

Namun, lompatan terbesar di industri saat ini adalah pemanfaatan Machine Learning untuk keamanan data. AI kini digunakan oleh penjahat siber untuk menyerang sistem backup, sehingga industri wajib merespons dengan teknologi deteksi anomali berbasis kecerdasan buatan pula.

“AI telah membuat ancaman siber berkembang semakin cepat dan semakin sulit diimbangi oleh enterprise. Industri membutuhkan perlindungan data yang tidak hanya andal, tetapi juga proaktif,” ujarnya.

Teknologi terbaru di industri kini mampu menganalisis versi backup historis untuk mengidentifikasi aktivitas mencurigakan, mengarantina file berbahaya secara otomatis, dan berintegrasi dengan antivirus pihak ketiga. 

Fitur mutakhir seperti Auto Fallback memastikan bahwa ketika industri harus melakukan pemulihan pasca-serangan, sistem secara otomatis akan diarahkan ke versi data terbersih dan paling aman.

Melalui transformasi teknologi ini, industri infrastruktur data tidak lagi sekadar menjadi benteng pertahanan terakhir, melainkan motor penggerak utama yang memastikan kelangsungan bisnis dan kedaulatan digital enterprise di era AI.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Annisa Nurfitri

Tag Terkait: