Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Kini Dipanggil Prabowo, Chatib Basri Sebelumnya Sebut Belanja Negara Pengaruhi Pelemahan Rupiah

Kini Dipanggil Prabowo, Chatib Basri Sebelumnya Sebut Belanja Negara Pengaruhi Pelemahan Rupiah Kredit Foto: Istihanah
Warta Ekonomi, Jakarta -

Ekonom senior sekaligus mantan Menteri Keuangan, Chatib Basri, memenuhi panggilan Presiden Prabowo Subianto dengan mendatangi Kompleks Istana Kepresidenan RI di Jakarta, Selasa (9/6/2026) sore.

Chatib tiba bersamaan dengan Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan, sekitar pukul 15.30 WIB.

Saat ditanya mengenai agenda pertemuan dengan Presiden, Chatib memilih tidak banyak memberikan keterangan. Namun, ia membenarkan kedatangannya ke Istana merupakan bagian dari pemenuhan panggilan Presiden.

Pemanggilan Chatib ke Istana terjadi di tengah perhatian publik terhadap perkembangan kondisi ekonomi nasional. Sebelumnya, mantan Menteri Keuangan tersebut menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah dan tekanan yang terjadi di pasar keuangan Indonesia.

Menurut Chatib, pelemahan rupiah tidak semata-mata dipengaruhi faktor fundamental ekonomi maupun dinamika global seperti kebijakan suku bunga Amerika Serikat dan konflik geopolitik. Berdasarkan analisis yang ia lakukan, meningkatnya persepsi risiko fiskal juga memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap pergerakan nilai tukar.

Ia menjelaskan bahwa indikator credit default swap (CDS) dapat digunakan untuk melihat persepsi risiko investor terhadap suatu negara. Ketika CDS meningkat, investor cenderung menilai risiko yang dihadapi negara tersebut juga semakin tinggi. Chatib menilai hubungan antara peningkatan CDS dan persepsi risiko investor lebih kuat dibandingkan anggapan bahwa pelemahan rupiah menjadi penyebab utama meningkatnya risiko.

Lebih lanjut, Chatib menyebut kekhawatiran investor muncul karena pertumbuhan belanja pemerintah dinilai jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan penerimaan negara. Ia mengungkapkan bahwa belanja pemerintah sempat tumbuh sekitar 34 persen, sementara pertumbuhan penerimaan pajak berada di kisaran 18 persen.

Baca Juga: Alasan Dedi Mulyadi Ajak Masyarakat Kelas Menengah Belanja di Warung

Meski mengingatkan adanya tekanan di pasar keuangan, Chatib menegaskan kondisi ekonomi Indonesia saat ini belum mengarah pada krisis seperti yang terjadi pada 1998. Menurutnya, struktur ekonomi Indonesia kini jauh lebih kuat, didukung sistem nilai tukar yang fleksibel serta kemampuan pelaku usaha dalam melakukan lindung nilai terhadap risiko kurs.

Kehadiran Chatib di Istana pun memunculkan perhatian karena pandangannya mengenai kondisi ekonomi dan fiskal Indonesia kerap menjadi rujukan dalam pembahasan kebijakan ekonomi nasional.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait: