Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Indonesia Baik-Baik Saja, Eks Menkeu Chatib Basri: Kita Gak akan Resesi

Indonesia Baik-Baik Saja, Eks Menkeu Chatib Basri: Kita Gak akan Resesi Kredit Foto: Youtube Sekretariat Presiden
Warta Ekonomi, Jakarta -

Tekanan terhadap rupiah belakangan ini terus memunculkan berbagai kekhawatiran di tengah masyarakat. Sebagian bahkan mulai membandingkan kondisi ekonomi saat ini dengan krisis moneter 1998 yang pernah melumpuhkan perekonomian nasional.

Meski begitu, mantan Menteri Keuangan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Chatib Basri, memastikan kondisi saat ini tidak bisa disamakan dengan krisis yang terjadi hampir tiga dekade lalu. Ia bahkan secara tegas menyatakan Indonesia tidak sedang menuju resesi.

"My answer is no (jawaban saya adalah tidak)," katanya singkat saat menanggapi kemungkinan Indonesia mengalami krisis seperti 1998.

Chatib menegaskan, meskipun nilai tukar rupiah mengalami tekanan, kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih kuat dibandingkan masa krisis moneter. Karena itu, ia menilai kekhawatiran bahwa Indonesia akan masuk ke jurang resesi tidak memiliki dasar yang kuat.

"Saya juga bilang kita nggak akan resesi. Orang boleh berdebat angkanya 5 persen, 4,7 persen atau berapa pun, itu tidak negative growth," sambungnya.

Menurut Chatib, salah satu perbedaan paling mendasar antara kondisi saat ini dan krisis 1998 terletak pada sistem nilai tukar yang kini bersifat fleksibel atau flexible exchange rate.

"Yang membedakan paling besar 1998 dengan 2026 itu adalah flexible exchange rate," ujarnya.

Baca Juga: Chatib Basri: Jadi Menkeu Cuma Perlu 3 Jurus

Ia menjelaskan bahwa pada saat krisis 1998 banyak perusahaan Indonesia memiliki utang dalam mata uang dolar AS, sementara pendapatan mereka diperoleh dalam rupiah. Ketika kurs rupiah jatuh tajam, beban utang langsung melonjak dan memicu gelombang kredit macet.

"Ketika rupiahnya jatuh, orang itu masih pinjam uang di dalam dolar sementara revenue-nya (pendapatan) dalam rupiah, sehingga NPL-nya naik," terangnya.

Berbeda dengan kondisi saat ini, perusahaan dan pelaku usaha dinilai sudah jauh lebih siap menghadapi fluktuasi kurs. Banyak di antaranya telah menerapkan strategi lindung nilai (hedging) maupun diversifikasi aset untuk mengurangi risiko gejolak mata uang.

Tak hanya dunia usaha, kelompok masyarakat berpendapatan tinggi juga dinilai lebih siap mengantisipasi tekanan nilai tukar dibandingkan era krisis 1998.

Karena itu, Chatib menilai pelemahan rupiah saat ini tidak cukup kuat untuk mendorong Indonesia masuk ke fase kontraksi ekonomi atau pertumbuhan negatif yang menjadi ciri utama resesi.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa tekanan ekonomi tetap akan dirasakan masyarakat. Pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan harga barang impor dan bahan baku yang masih bergantung pada pasar luar negeri.

Komoditas seperti kedelai dan gandum disebut berisiko mengalami kenaikan harga, yang pada akhirnya dapat memengaruhi harga produk sehari-hari seperti tahu, tempe, hingga mi instan.

Baca Juga: Kini Dipanggil Prabowo, Chatib Basri Sebelumnya Sebut Belanja Negara Pengaruhi Pelemahan Rupiah

Namun, bagi Chatib, tekanan tersebut berbeda dengan ancaman resesi. Ia menegaskan bahwa tantangan yang sedang dihadapi Indonesia saat ini lebih berkaitan dengan daya beli dan biaya hidup, bukan ancaman runtuhnya perekonomian nasional seperti yang terjadi pada 1998.

Dengan kata lain, meski rupiah sedang melemah dan ekonomi menghadapi tekanan global, Chatib Basri meyakini Indonesia masih berada di jalur pertumbuhan dan jauh dari bayang-bayang resesi yang selama ini dikhawatirkan banyak pihak.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri

Tag Terkait: